<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Hati &#187; prasekolah</title>
	<atom:link href="http://www.mutiara-hati.com/tag/prasekolah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mutiara-hati.com</link>
	<description>a different touch to be smart</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 12:48:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 00:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan toilet training (latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis. Kemampuannya mengontrol keinginan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/24/1855219p.jpg" alt="1855219p Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet"  title="Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet" />Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan <strong>toilet training</strong> (<strong>latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air</strong>). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis.</p>
<p>Kemampuannya mengontrol keinginan buang air pun cukup baik. Sayangnya, pada malam hari, si kecil masih mau memakai diapers. Mungkin karena minumnya banyak, dan selain itu Anda juga tidak ingin repot bangun tengah malam untuk menggotong si kecil ke kamar mandi. Gagallah toilet training yang Anda terapkan.</p>
<p>Mungkin, banyak ibu lain yang memiliki keluhan sama seputar kegagalan mereka menerapkan toilet training. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut penjelasannya:</p>
<p><strong>1. Terlalu awal memulai</strong><br />
Idealnya, toilet training dimulai ketika anak telah memasuki usia 2 tahun. Bila Anda terburu-buru memulai sebelum waktunya, maka boleh jadi kegagalan yang didapat. Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama dan berat sekali saat harus melaksanakan program tersebut. Anda perlu mengamati tanda-tanda kesiapannya, baik secara fisik, kognitif, maupun perilaku. Tanda-tanda tersebut biasanya sudah terlihat ketika anak memasuki usia 18 bulan sampai 2 tahun. Bahkan, sebagian ada yang baru menunjukkan tanda-tanda ketika memasuki usia 4 tahun. Patut diingat, anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda, tidak bisa disamaratakan. Jadi, jangan kecewa bila mendapati keponakan, anak teman atau tetangga dapat lebih awal memiliki kemampuan mengontrol buang air dibandingkan anak sendiri.</p>
<p>Sedikitnya, untuk menerapkan toilet training dibutuhkan waktu 3 bulan. Dituntut kesabaran dan sportivitas bila Anda gagal menerapkan dalam waktu di atas itu. Ini dapat dijadikan pertanda bahwa anak Anda belum siap. Tunggulah beberapa minggu dan mulailah untuk mencoba kembali.</p>
<p><strong>2. Memulai di waktu yang tidak tepat</strong><br />
Hindari memulai toilet training pada saat yang tidak tepat, seperti seminggu sebelum kelahiran adik bayi, baru ganti pengasuh, pindah rumah, atau hal-hal yang berkaitan dengan rutinitas anak. Prasekolah biasanya memiliki rutinitas tertentu dalam kesehariannya. Ketika terjadi perubahan, maka si prasekolah butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru tersebut. Untuk itu, hindari melakukan toilet training pada waktu-waktu tersebut. Tunggulah sampai anak dapat beradaptasi sebelum toilet training dimulai. </p>
<p><strong>3. Jangan pernah memaksa</strong><br />
Ketika si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan dan tertarik untuk memulai toilet training, jangan paksa ia untuk segera melaksanakan secepat mungkin. Bisa-bisa si anak malah mengalami stres yang ditandai dengan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Untuk itu, biarkan si kecil mengikuti iramanya, dan menjalani program toilet training setahap demi setahap. Tindakan paling bijaksana adalah tetap memberikan motivasi. Namun, ketika anak mogok, jangan sekali-sekali dipaksakan.</p>
<p><strong>4. Hindari sekadar ikut-ikutan</strong><br />
Jangan terpengaruh cerita kenalan atau saudara tentang keberhasilan  program toilet training yang diterapkan pada anaknya. Setiap anak adalah unik. Tidak mungkin menyamaratakan perkembangan semua anak sehingga memukul rata usia tepat melakukan toilet training. Langkah paling bijaksana adalah menunggu kesiapan anak. Sampaikan saja kepada kenalan, teman, atau saudara, “Kami telah memiliki rencana sendiri tentang program toilet training.”</p>
<p><strong>5. Hindari memberikan hukuman</strong><br />
Jangan sekali-kali memberikan hukuman kepada si <strong>prasekolah</strong> ketika gagal melakukan toilet training. Bisa jadi hukuman yang diberikan terasa memberatkan dan membuatnya trauma. Akibatnya, anak tidak mau memulai kembali toilet training karena teringat akan hukuman yang diberikan. Harus diingat, setiap anak berbeda sehingga dituntut kesabaran dan kecermatan <strong>orangtua</strong>.</p>
<p><strong>6. Tidak konsisten</strong><br />
Ketika memutuskan untuk melaksanakan toilet training hendaknya orangtua mampu bersikap konsisten. Laksanakan latihan itu saat siang dan malam hari. Memang, tidak bisa langsung serentak, tapi diawali dengan kesuksesan melaksanakan di siang hari, lalu dilanjutkan pada malam hari. Dituntut ketegasan dan kerelaan orangtua untuk membangunkan anak untuk BAK di kamar mandi, atau sekadar menggunakan potty training di kamar tidur.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="pipis di toilet">pipis di toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="cara mengajarkan toileting pada balita">cara mengajarkan toileting pada balita</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="anak belajar pipis di kamar mandi">anak belajar pipis di kamar mandi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kapan bayi mulai belajar pipis ke wc">kapan bayi mulai belajar pipis ke wc</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kapan saatnya anak belajar ke toilet">kapan saatnya anak belajar ke toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kegagalan toilet training">kegagalan toilet training</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="mengapa di sekolah butuh toilet">mengapa di sekolah butuh toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="mengarahkan anak buang air besar di kamar mandi">mengarahkan anak buang air besar di kamar mandi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="saat yang tepat untuk potty training malam hari">saat yang tepat untuk potty training malam hari</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="tip belajar anak usia 2 tahun">tip belajar anak usia 2 tahun</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.529 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kecil Tidak Berani Tampil</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 00:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[potensi anak]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater anak]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/06/1649176p.jpg" alt="1649176p Si Kecil Tidak Berani Tampil"  title="Si Kecil Tidak Berani Tampil" />Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan tawaran untuk didampingi oleh temannya pun ditolak. Alhasil, kesempatan itu pun terlewati.</p>
<p>Memang tidak semua anak memiliki keberanian untuk tampil di panggung. Tapi, menurut Rahmi Dahnan, Psi., psikolog dari Kita dan Buah Hati, kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat diterima. Sebab pada sebagian orang baik pemalu maupun tidak, beberapa situasi akan membuatnya mengalami rasa malu. Misal, ketika bertemu dengan orang yang baru saja dikenal, tampil di depan orang banyak, atau saat menghadapi situasi yang baru (seperti, sekolah baru, pindah rumah baru, kantor baru). Jadi jika ada di antara anak <strong>prasekolah</strong> yang merasa malu untuk tampil di panggung atau dalam acara sekolah, sesungguhnya masih tergolong wajar.</p>
<p><strong>Malu vs. percaya diri</strong><br />
Ketika si prasekolah tidak berani tampil di panggung atau acara terbuka lainnya di hadapan orang banyak, umumnya ada dua penyebabnya. Pertama, si prasekolah kurang memiliki rasa percaya diri. Kedua, memang anak tersebut memilki sifat pemalu.</p>
<p>Untuk membedakan antara anak yang tak berani tampil karena memiliki sifat pemalu atau kurang percaya diri, tentunya dituntut kepekaan orangtua. Cara pengamatannya cukup sederhana. Untuk anak yang kurang percaya diri umumnya <strong>sifat pemalu</strong> itu tidak menetap. Maksudnya, anak hanya tidak berani tampil pada kesempatan tertentu saja. Misal, ketika kurang persiapan atau penontonnya terlalu banyak.</p>
<p>Sedangkan untuk anak yang memang memiliki watak atau sifat pemalu, bila diamati maka watak atau sifat itu akan menetap. Jadi si anak dalam berbagai kesempatan akan selalu menarik diri karena malu. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan rumah sendiri atau bahkan di lingkungan keluarga. Menurut Swallow, seorang pakar <strong>psikiater anak</strong>, ada 10 hal yang biasanya dilakukan atau dirasakan anak pemalu. Di antaranya, menghindari kontak mata, memperlihatkan perilaku mengamuk (temper tantrum) untuk melepaskan kecemasannya, tidak banyak bicara, tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, tidak mau meminta pertolongan atau bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya, menggunakan alasan sakit agar tak berhubungan dengan orang lain (misalnya agar tidak pergi ke sekolah), bahkan merasa tidak ada yang menyukainya.</p>
<p><strong>Bila kurang percaya diri</strong><br />
Anak yang tidak berani tampil karena kurang memiliki rasa percaya diri, umumnya dapat diatasi. Dengan memberikan stimulasi yang tepat dan rutin, niscaya anak dapat mengatasi rasa percaya dirinya. Untuk itu menjadi tugas orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri si anak. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:<br />
*Lakukan persiapan sebelum acara dimulai. Berikan penjelasan suasana acara yang akan diikuti. Tak ketinggalan, tahapan atau langkah yang harus dilakukan pada acara tersebut. Bila perlu, ajak anak untuk tiba di lokasi 10 – 15 menit sebelum acara dimulai, sehingga si prasekolah dapat memperoleh gambaran suasana acaranya. Ini akan membantu si prasekolah dalam menyesuaikan diri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.<br />
* Bila perlu berikan contoh. <strong>Anak prasekolah</strong> mempelajari sesuatu dengan meniru atau mencontoh dari lingkungannya. Untuk itu, orangtua pun hendaknya dapat memberikan contoh bersikap atau berperilaku di tengah keramaian. Misal, cara bertegur sapa dan bergabung dengan teman-teman dalam kelompok tersebut. Bila anak mau melakukan, berikan penghargaan. Misal, “Mama bangga lho…Ternyata adek berhasil bergabung dan mengobrol dengan asyik sama teman-temannya.”<br />
Atau, kalau ingin menumbuhkan keberanian anak ketika akan mengikuti lomba, sesekali orangtua hendaknya juga jadi peserta lomba dan ajaklah anak untuk mengamati gaya atau perilaku orangtuanya saat mengikuti lomba.<br />
* Berikan kesempatan pada anak untuk menyatakan pilihan atau keinginannya. Contoh, ketika memilih model busana, makanan atau potongan rambut. Menghargai pilihannya dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.</p>
<p><strong>Berikan stimulasi dengan dukungan dari lingkungan</strong><br />
Untuk penyebab yang kedua yakni pemalu, orangtua hendaknya bersikap lebih berhati-hati. Sebab ada penelitian yang menyatakan bahwa watak pemalu ini bersifat bawaan atau keturunan. Hal yang patut diwaspadai oleh orangtua bila sifat pemalu ini berubah menjadi masalah. Karena, bila dibiarkan sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan tidak berkembang optimal.</p>
<p>Ketika orangtua mengetahui anaknya pemalu dan menyebabkan si anak tidak memiliki keberanian untuk tampil, sebaiknya sikap yang ditunjukkan adalah menerima sifat pemalu tersebut apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Langkah selanjutnya, orangtua hendaknya juga mendorong anak untuk mengatasi rasa malunya, sehingga akan tumbuh rasa percaya dirinya.</p>
<p>Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sifat pemalu pada si prasekolah:<br />
1. Dorong anak untuk bergabung dengan klub atau aktivitas yang menarik minatnya. Mungkin musik, ilmu pengetahuan, apa saja sepanjang bidang yang diminati. Cara ini dapat menciptakan kesempatan-kesempatan agar terbentuk hubungan yang familiar dan nyaman dengan kelompok-kelompok yang lebih besar.</p>
<p>2. Tidak mengolok-olok atau membicarakan <strong>sifat pemalu anak</strong> di depannya. Pembicaraan seperti itu dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak diterima sebagaimana adanya.</p>
<p>3. Ketahui kesukaan dan <strong>potensi anak</strong>. Doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka menyanyi maka kembangkan hobinya. Bila perlu ikutkan dengan kursus atau latihan vokal agar kemampuannya semakin bertambah..</p>
<p>4. Mengajak anak berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara. Buatlah jadual berkunjung ke rumah teman, tetangga, kerabat, dan bermainlah di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada lokasi yang berbeda. Atau, ajaklah anak-anak tetangga atau teman-teman sekolahnya untuk bermain di rumah.</p>
<p>5. Bermain peran bersama anak. Misalnya, anak belum berani tampil di panggung, sekalipun didampingi temannya. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang ada pertunjukkan, anak akan tampil menari di atas panggung atau menari sambil didampingi temannya. Bermain peran dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura, di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.</p>
<p>6. Jadilah contoh buat anak. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri. Untuk itu, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku percaya diri.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab kurang percaya diri pada anak tk">penyebab kurang percaya diri pada anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="makalah mengatasi sifat pemalu pda anak tk">makalah mengatasi sifat pemalu pda anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="cache:OB-4l7jgpc4J:www mutiara-hati com/ www mutiara hati com">cache:OB-4l7jgpc4J:www mutiara-hati com/ www mutiara hati com</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="cara mengatasi murid yang malu-malu atau tidak berani tampil di depan kelas">cara mengatasi murid yang malu-malu atau tidak berani tampil di depan kelas</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="agar anak berani tampil">agar anak berani tampil</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="bagaimana membuat anak lebih berani tidak malu">bagaimana membuat anak lebih berani tidak malu</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="pengertian anak prasekolah">pengertian anak prasekolah</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="contoh kata -kata persembahan buat orang tua">contoh kata -kata persembahan buat orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab temper tantrum">penyebab temper tantrum</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab temper tantrum pada toddler">penyebab temper tantrum pada toddler</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.659 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blowing Balloon Tingkatkan Konsentrasi Anak Autis</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 01:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak autis]]></category>
		<category><![CDATA[blowing balloon]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[taman kanak-kanak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Pendekatan &#8220;bermain sambil belajar&#8221; umumnya diberikan untuk anak prasekolah, taman kanak-kanak, dan anak usia SD. Pendekatan itu efektif karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memenuhi perasaan ingin tahu, kemampuan inovatif, kritis, dan kreatif, juga membantu mengatasi perasaan bimbang dan tertekan. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain, anak belajar sesuai tuntutan taraf perkembangannya. Pendekatan bermain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi width=200 alt="anak autis" src="http://hil4ry.files.wordpress.com/2007/10/autis1.jpg&#038;imgrefurl=http://hil4ry.wordpress.com/2007/09/&#038;usg=__uC7xBMEqb8krKTWO7tuPbv0Hjkg=&#038;h=298&#038;w=298&#038;sz=16&#038;hl=en&#038;start=1&#038;um=1&#038;tbnid=fOXl8W9a4HoXNM:&#038;tbnh=116&#038;tbnw=116&#038;prev=/images%3Fq%3DAnak%2BAutis%26hl%3Den%26client%3Dopera%26rls%3Den%26sa%3DN%26um%3D1" title="anak autis" />Pendekatan &#8220;bermain sambil belajar&#8221; umumnya diberikan untuk anak prasekolah, taman kanak-kanak, dan anak usia SD. Pendekatan itu efektif karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memenuhi perasaan ingin tahu, kemampuan inovatif, kritis, dan kreatif, juga membantu mengatasi perasaan bimbang dan tertekan. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain, anak belajar sesuai tuntutan taraf perkembangannya.</p>
<p>Pendekatan bermain sambil belajar tidak hanya efektif untuk anak normal. Berdasar kegiatan yang penulis lakukan, pendekatan tersebut juga dapat diterapkan untuk anak autis.</p>
<p>Pendekatan bermain sambil belajar untuk anak autis dilakukan dalam rangka meningkatkan konsentrasi anak agar dapat mengikuti pembelajaran. Sebab, kemampuan konsentrasi anak autis berbeda dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) lain. Tandanya, kontak mata sangat kurang, ekspresi wajah kurang hidup, gerak-gerik kurang tertuju, serta kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional timbal balik.</p>
<p>Untuk itu, diperlukan permainan yang dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi anak selama pembelajaran berlangsung. Misalnya, permainan blowing balloon dapat dimanfaatkan guru pembimbing khusus (GPK) sebagai alternatif permainan sekaligus kegiatan belajar mengajar dalam mengenalkan konsep &#8220;besar-kecil&#8221; bagi anak autis.</p>
<p>Caranya, sebelum memulai permainan, GPK mempersiapkan alat/bahan. Permainan blowing balloon bisa dibeli di toko mainan, toko makanan kecil, pasar, dan tempat-tempat yang menjual mainan anak. Permainan itu terdiri atas pasta blowing balloon dalam tube kecil dan sedotan kecil sebagai alat tiup.</p>
<p>Setelah siap, GPK menunjukkan, bila perlu memberikan, alat permainan tersebut kepada anak autis agar anak tertarik. GPK lalu mencontohkan cara menggunakan permainan tersebut. Misalnya, untuk mengenalkan konsep &#8220;besar&#8221;, GPK mengambil pasta blowing balloon lebih banyak agar saat ditiup, blowing balloon yang terbentuk juga besar. Untuk mengenalkan konsep &#8220;kecil&#8221;, GPK mengambil pasta blowing balloon lebih sedikit agar saat ditiup blowing balloon yang terbentuk juga kecil.</p>
<p>Begitu blowing balloon besar dan kecil sudah terbentuk, guru mengajak anak autis memantul-mantulkannya ke udara sambil mengucapkan &#8220;besar&#8221; bila yang dipantulkan blowing balloon besar. Demikian pula, anak diajak mengatakan &#8220;kecil&#8221; bila yang dipantulkan blowing balloon kecil.</p>
<p>Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengenal konsep &#8220;besar-kecil&#8221;, GPK memberikan perintah sederhana. Misalnya, tunjuk mana blowing balloon yang besar dan mana blowing balloon yang kecil. Untuk mengetahui sejauh mana anak autis mengingat blowing balloon yang sudah ditunjuk, GPK memberikan perintah sederhana &#8220;ambil&#8221;. Maksudnya, ambil blowing ballon yang besar dan ambil blowing ballon yang kecil.</p>
<p>Berdasar pengalaman penulis, permainan blowing balloon mampu meningkatkan konsentrasi anak autis hingga 75 persen dan dapat dijadikan alternatif permainan untuk mengenalkan konsep besar-kecil.</p>
<p><em>sumber : JPNN<br />
Oleh Badrut Tamam, Guru SDN Mriyunan, Sidayu, Gresik</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan konsentrasi anak">permainan konsentrasi anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk meningkatkan konsentrasi">permainan untuk meningkatkan konsentrasi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="mainan anak autisme">mainan anak autisme</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan konsentrasi">permainan konsentrasi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="rancangan bermain didalam kelas for prescholl">rancangan bermain didalam kelas for prescholl</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk anak autis dan hiperaktif">permainan untuk anak autis dan hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="meningkatkan konsentrasi anak hiperaktif">meningkatkan konsentrasi anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="metode guru untuk mengatasi anak hiperaktif di tk">metode guru untuk mengatasi anak hiperaktif di tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="anak kurang konsentrasi">anak kurang konsentrasi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk anak yang kurang konsentrasi">permainan untuk anak yang kurang konsentrasi</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.993 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stimulasi IQ-EQ-SQ sejak Prasekolah</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 01:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[emotional quotient]]></category>
		<category><![CDATA[EQ anak]]></category>
		<category><![CDATA[intelegence quotient]]></category>
		<category><![CDATA[inteligensi]]></category>
		<category><![CDATA[inteligensi tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[inteligensia anak]]></category>
		<category><![CDATA[IQ anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual quotient]]></category>
		<category><![CDATA[SQ anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Konsep tradisional tentang inteligensi seseorang mengemukakan bahwa tingkat kecerdasan merupakan faktor bawaan yang sudah ditentukan sejak lahir. Karena itu, siapa pun tidak dapat mengubah, apalagi meningkatkan, kadar inteligensi seseorang. Namun, seiring perkembangan pendidikan, konsep tersebut mulai tergeser oleh hasil penelitian yang secara intens mempelajari cara meningkatkan kecerdasan seseorang. Hasilnya, tingkat kecerdasan seseorang dapat ditingkatkan. Caranya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/v2/wp-content/uploads/pre-school-mutiara-hati-31.jpg" alt="pre school mutiara hati 31 Stimulasi IQ EQ SQ sejak Prasekolah" title="pre-school-mutiara-hati-31" width="250" height="167" class="alignleft size-full wp-image-160" />Konsep tradisional tentang inteligensi seseorang mengemukakan bahwa tingkat kecerdasan merupakan faktor bawaan yang sudah ditentukan sejak lahir. Karena itu, siapa pun tidak dapat mengubah, apalagi meningkatkan, kadar inteligensi seseorang.</p>
<p>Namun, seiring perkembangan pendidikan, konsep tersebut mulai tergeser oleh hasil penelitian yang secara intens mempelajari cara meningkatkan kecerdasan seseorang. Hasilnya, tingkat kecerdasan seseorang dapat ditingkatkan. Caranya, antara lain, menyekolahkan dan meningkatkan asupan gizi untuk perkembangan saraf otak.</p>
<p>Upaya meningkatkan intelektual peserta didik di sekolah tidak mungkin dilakukan secara instan. Hal itu harus dilakukan secara stimultan sejak dini, sejak usia prasekolah, dengan menyediakan atau menciptakan lingkungan yang memberi stimulasi intelektual. Sebab, inteligensia anak tidak akan berkembang hanya dengan memperhatikan sudut gizi tanpa memperhatikan sudut lingkungan.</p>
<p>Dari sudut pendidikan, inteligensi didefinisikan sebagai kemampuan mengunakan potensi intelek untuk belajar. Sedangkan hasil belajar merupakan pengetahuan yang dimulai dari pengalaman indra, persepsi, imajinasi, konsentrasi, abstraksi, penilaian, dan penalaran. Proses tersebut menyangkut daya ingat atas bahan yang diperoleh sebelumnya, kemudian dikeluarkan untuk proses lebih lanjut (M.S. Hadisubrata, 1988)</p>
<p>Secara kongkret dapat dikatakan, anak dengan kadar intelek dan inteligensi tinggi (cerdas) adalah anak yang pengamatannya tajam, daya persepsi dan imajinasinya kuat, daya abstraksi dan apresiasinya tinggi, daya penalarannya lurus, serta daya konsentarsi dan daya ingatnya kuat.</p>
<p>Pertanyaannya, seberapa jauh urgensi stimulasi untuk merangsang perkembangan IQ (intelegence quotient), EQ (emotional quotient), dan SQ (spiritual quotient)? Hasil penelitian psikolog Skeels dan Dye (1938), White (1971), dan psikolog lain menyimpulkan hal-hal berikut.</p>
<p>Pertama, tanpa stimulasi dari lingkungan, anak tidak akan dapat mengaktualisasikan potensi inteleknya secara maksimal. Di sini, anak belum mencapai titik IQ, EQ, dan SQ optimal yang seharusnya bisa dicapai.</p>
<p>Kedua, ada kecenderungan para ahli untuk merangsang perkembangan inteligensi secara maksimal dalam dua kategori, nonverbal dan verbal. Yang termasuk nonverbal adalah aktivitas untuk merangsang pengakraban indera seperti mainan dan aktivitas fisik lain sejenis.</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud verbal adalah berbicara, menghafal, mengajar bahasa, dan sejenisnya. Bagi peserta didik di kelas rendah (SD, TK, playgroup), dua jenis rangsangan itu merupakan learn climate (iklim belajar) seperti halnya yang terjadi pada peserta didik di kelas menengah (SMP, SMA).</p>
<p>Yang paling perlu diingat dalam rangka stimulasi kecerdasan, emosi, dan spiritual adalah peran orang tua dan guru sama-sama penting. Fungsi sekolah dan lingkungan keluarga, dan tempat bermain sama vitalnya. Semua harus saling mendukung, tidak boleh ada satu aspek pun yang lemah.</p>
<p>Untuk mendapatkan tingkat intelektual yang optimal di semua jenjang pendidikan, stimulasi harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak prasekolah. Pada masa bayi, orang tua bertanggung jawab merangsang indera, aktivitas motorik, dan bahasa. Idealnya, anak usia 12 bulan harus bisa menjawab pertanyaan kita. Meski, saat ditanya &#8220;mana mobilnya&#8221;, anak hanya menunjuk ke lantai seraya merangkak mengambil mobil-mobilannya.</p>
<p>Karena itu, perlu sekali merangsang inteligensi peserta didik sedini mungkin, sejak usia pembentukan, saat masih mudah merangsang perkembangan kecerdasan, emosi, dan fisik. Grade perkembangan yang diperoleh pada masa balita itulah yang nanti menjadi dasar pola perkembangan inteligensi selanjutnya. Sehingga, tidak aneh bila tingkat kecerdasan, stabilitas emosi, dan kepekaan sosial peserta didik di tingkat SMP/SMA sangat variatif meski mereka belajar di satuan pendidikan dengan fasilitas sama.</p>
<p><em>sumber : JPNN<br />
Oleh: Ismawati, Guru SMP At-Tholhawiyah Modung, Bangkalan</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="iq eq sq">iq eq sq</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="artikel IQ EQ SQ">artikel IQ EQ SQ</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="artikel tentang IQ">artikel tentang IQ</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="artikel SQ">artikel SQ</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="stimulasi lingkungan">stimulasi lingkungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="pelajaran sq">pelajaran sq</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="artikel IQ">artikel IQ</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="meningkatkan sq">meningkatkan sq</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="artikel tentang IQ SQ EQ">artikel tentang IQ SQ EQ</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html" title="IQ EQ DAN SQ DALAM KANDUNGAN">IQ EQ DAN SQ DALAM KANDUNGAN</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 4.528 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/stimulasi-iq-eq-sq-sejak-prasekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
