<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Hati &#187; Mendidik anak</title>
	<atom:link href="http://www.mutiara-hati.com/tag/mendidik-anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mutiara-hati.com</link>
	<description>a different touch to be smart</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 12:48:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 23:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Menghormati Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Berani]]></category>
		<category><![CDATA[Great Imitator]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[menghormati anak]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Takut]]></category>
		<category><![CDATA[Toko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki anak yang berbakti, santun dan menghormati yang lebih tua adalah dambaan setiap orang tua. Sedih rasanya sebagai orang tua, apabila mengetahui anaknya tidak berbakti kepada Anda. Simak tips berikut ini agar anak lebih dapat menghormati Anda : 1. Perlakukan dan hormati anak seperti anda menghormati orang dewasa Tidak jarang orang tua yang luput dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://images.detik.com/content/2010/07/03/857/86533105.jpg" alt="86533105 Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua "  title="Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua " /><br />
Memiliki anak yang berbakti, santun dan menghormati yang lebih tua adalah dambaan setiap orang tua. Sedih rasanya sebagai orang tua, apabila mengetahui anaknya tidak berbakti kepada Anda. Simak tips berikut ini agar anak lebih dapat menghormati Anda :</p>
<p><strong>1. Perlakukan dan hormati anak seperti anda menghormati orang dewasa</strong><br />
Tidak jarang orang tua yang luput dari menghormati anak-anaknya, namun mereka malah mengharuskan anak-anaknya menghormati orang yang lebih tua. Ingat, anak juga manusia yang mempunyai perasaan dan dapat mencontoh apa yang sering ia lihat dan rasakan. Biasakanlah untuk menghormati anak agar ia tidak luput dari rasa menghormati siapapun menjadi anak yang berbudi pekerti baik.</p>
<p><strong>2. Bersikap tegas dan dapat dipercaya</strong><br />
Tegaslah dengan apa yang Anda ucapkan. Jika Anda melarang atau meminta anak melakukan sesuatu beri ia alasan yang benar serta beri ia ketegasan.</p>
<p><strong>3. Bersikaplah terus terang kepada anak</strong><br />
Katakan pada anak Anda sesuatu yang semestinya mereka ketahui, beri ia penjelasan mengenai sesuatu. Jika anak menanyakan satu hal dan Anda tidak mengetahui jawabannya, ada baiknya Anda mengatakan hal yang sebenarnya dan mengajak anak mencari tahu jawabannya bersama-sama. Sikap ini akan lebih dihargai anak ketimbang Anda pura-pura tahu.</p>
<p><strong>4. Jadilah orangtua yang konsisten baik dalam bersikap maupun dalam berkata-kata</strong><br />
Apabila orangtua menetapkan aturan A kepada anak maka sedapat mungkin orangtua harus tetap konsisten dengan peraturan tersebut, yaitu A. Misalnya, ketika orangtua menekankan kepada anak supaya tidak pernah mengambil barang milik orang lain sebelum meminta izin dari pemiliknya, maka janganlah sekali-kali membiarkan atau bahkan menyuruh anak memakan makanan di toko yang belum dibayar.</p>
<p><strong>5. Janganlah berdusta kepada anak atau memperdayainya</strong><br />
Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat mendorong anak untuk tidak menghargai orangtua beserta aturannya.</p>
<p><strong>6. Berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan terhadap anak</strong><br />
Jangan takut meminta maaf atas kesalahan yang Anda lakukan, karena dengan demikian, anak akan menghargai sikap Anda serta mencontoh perilaku ini jika ia melakukan kesalahan.</p>
<p><strong>7. Jangan takut mengungkapkan kasih sayang</strong><br />
Anak yang tumbuh dengan ekspresi kasih sayang orangtua akan memiliki sikap yang ekspresif dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Hormatilah gagasannya akan sesuatu, seperti kritis dengan lingkungan sekitar, dan sikapnya dalam menghormati sesama.</p>
<p><strong>8. Hormati hak anak</strong><br />
Anak berhak mendapatkan uang jajan maka berikanlah, berikan juga kebebasan untuk berbicara dan berekspresi, tentu kebebasannya jangan sampai keluar dari koridor yang diharapkan. Dengan cara seperti ini anak akan terbiasa untuk menghargai dan menghormati kebebasan milik orang lain.</p>
<p><strong>9. Jadilah orang tua yang menghormati orang lain</strong><br />
Anak adalah peniru ulung atau &#8216;Great Imitator&#8217;, pada umumnya anak akan meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya, bila Anda menghormati orang lain tentu anak pun akan belajar dan meniru dari kebiasaan Anda. Oleh karenanya, mulailah berikan contoh yang baik dan perlakukan anak-anak sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Selamat mendidik anak, semoga anak Anda menjadi anak sesuai yang dicita-citakan.</p>
<p><em>sumber wolipop</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara mengambil hati orang tua">cara mengambil hati orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="bagaimana cara mengajarkan anak belajar">bagaimana cara mengajarkan anak belajar</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="TIPS MENGAJARI ANAK BELAJAR OLEH ORANG TUA">TIPS MENGAJARI ANAK BELAJAR OLEH ORANG TUA</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="tips cara mengajarkan anak baca">tips cara mengajarkan anak baca</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="menghormati">menghormati</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="mengajarkan anak berbagi">mengajarkan anak berbagi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="makalah memiliki anak cerdas TK adalah dambaan orang tua">makalah memiliki anak cerdas TK adalah dambaan orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara menghargai orang yang lebih tua">cara menghargai orang yang lebih tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara mengajarkan PAUD">cara mengajarkan PAUD</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara anak menghargai jasa orang tua">cara anak menghargai jasa orang tua</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 6.225 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompak dalam Mendidik Si Kecil</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/kompak-dalam-mendidik-si-kecil.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/kompak-dalam-mendidik-si-kecil.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 00:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[memanjakan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[psikologis anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Jangan biarkan anak bingung dengan ketidakkompakan Anda dan pasangan hingga berlarut-larut! Ingat, anak juga bisa belajar memanfaatkan peluang dibalik ketidakkompakan orangtua, lho. Misalnya, mendapatkan apa yang diinginkan dari ayah yang lebih memanjakannya, mengatakan sudah mendapat ijin dari ibu untuk menginap, mengajak ayah pergi keluar padahal ibu baru saja mengingatkan untuk belajar, dan seterusnya. Lama-lama, ketidakkompakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/19/1847497p.jpg" alt="1847497p Kompak dalam Mendidik Si Kecil"  title="Kompak dalam Mendidik Si Kecil" />Jangan biarkan anak bingung dengan ketidakkompakan Anda dan pasangan hingga berlarut-larut! Ingat, anak juga bisa belajar memanfaatkan peluang dibalik ketidakkompakan orangtua, lho.</p>
<p>Misalnya, mendapatkan apa yang diinginkan dari <strong>ayah</strong> yang lebih memanjakannya, mengatakan sudah mendapat ijin dari <strong>ibu</strong> untuk menginap, mengajak ayah pergi keluar padahal ibu baru saja mengingatkan untuk belajar, dan seterusnya. Lama-lama, ketidakkompakan ini tentu akan merugikan anak juga, bukan? Selain itu, ketidakkompakan orangtua juga akan membuat anak bingung melihat ketidakharmonisan ayah dan ibunya. Anak jadi tak nyaman di rumah. Bahkan, ia memilih untuk sering berada di luar rumah bersama teman-temannya.</p>
<p>Menurut Clara Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari lembaga konsultasi psikologi Jagadnita, penting bagi <strong>orangtua</strong> untuk mempertemukan pendapat dalam hal mendidik anak. Idealnya, membicarakan soal mendidik anak sudah dilakukan ketika istri sedang mengandung sang anak atau jauh sebelumnya. Namun, tak ada salahnya menyatukan atau mengharmoniskan kembali pendapat yang sudah terlanjur berbeda. Toh, semua itu demi kebaikan bersama, antara Anda dan suami, juga dengan Si Kecil!</p>
<p><strong>Libatkan pasangan lebih banyak</strong>. Sesekali Anda mungkin kesal dengan suami yang terkesan menyerahkan semua persoalan mendidik anak hanya kepada Anda. Hanya karena ia menjadi pihak yang mencari nafkah bagi keluarga, tanggung jawab <strong>mendidik anak</strong> dilepaskan begitu saja kepada istri yang lebih memiliki waktu bersama anak. Namun, jangan terburu-buru menyalahkan pasangan! Bisa jadi ia memilih begitu karena merasa tak dekat dengan anak. Coba libatkan sang ayah lebih banyak untuk urusan anak. Misalnya, menceritakan perkembangan anak di telepon saat jam makan siang, menunjukkan hasil karya anak usai makan malam, atau mengajak anak menelepon ayahnya menjelang pulang kantor.</p>
<p><strong>Bukan kamu, tapi kita</strong>. Saat melihat suami terlalu <strong>memanjakan anak</strong>, jangan terburu-buru mengkritiknya, apalagi di hadapan anak. Anda mungkin merasa yang paling tahu apa yang terbaik bagi anak. Namun, jika suami melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bicara pun harus dilakukan dengan cara yang tepat. Untuk menunjukkan apa yang dilakukannya memang tak benar, Anda bisa mencoba menekankan “konsep kita“. Menurut Clara, janganlah menyalahkan suami selalu dengan menunjuk &#8220;kamu!&#8221; seolah Anda sedang menyudutkan atau hanya menyoroti kesalahannya. Coba ungkapkan dengan bahasa &#8220;kita&#8221;. Sehingga anak tak dipahami sebagai &#8220;milik siapa&#8221; melainkan tanggung jawab bersama.</p>
<p><strong>Tunjukkan alasan tepa</strong>t. Suatu kali Anda melihat sang ayah membelikan anak mainan atau baju yang mahal harganya. Padahal, Anda sedang menghukum anak karena tak mau belajar. Anda jadi merasa sia-sia berusaha memberi pelajaran positif soal tanggung jawab kepada anak. Nah, agar kritik kepada pasangan lebih enak didengar, Clara menyarankan, agar istri menunjukkan alasan yang benar-benar berlandaskan pengetahuan sehingga suami tak merasa sedang dituduh atau dihakimi. Tunjukkan dampak buruk dari apa yang dilakukan suami dengan berdiskusi bersama. Menonton video soal mendidik anak, atau membaca buku soal mendidik anak, bisa menjadi bahan yang asyik untuk membuka topik pembicaraan soal mendidik anak. Jika suami belum juga berubah, coba ingatkan kembali di lain waktu, dan jangan mudah menyerah!</p>
<p><strong>Meminta maaf</strong>. Anda tentu tak tega melihat anak disakiti. Suatu saat, Anda melihat sang ayah menghukumnya secara fisik. Secara refleks Anda akan mencegah suami melakukannya. Sudah pasti kejadian itu akan direspons negatif oleh suami. Si Dia pasti menganggap Anda menjatuhkan reputasinya di hadapan anak. Anda juga akan dianggap tak bisa bersikap tegas di hadapan anak. Nah, mulailah mengucap kata maaf untuk menjelaskan apa alasan di balik upaya Anda. Setelah mengucap maaf dengan tulus, ungkapkan apa dampak dari memukul anak seperti yang pernah Anda dengar atau baca. Jika suami tak mau mendengarkan Anda, minta maaflah kembali di lain waktu ketika suasana sudah jauh lebih tenang.</p>
<p><strong>Libatkan pihak ketiga</strong>. Anda dan suami jauh berbeda dalam hal mendidik anak. Anda terlalu disiplin, sang ayah terlalu memanjakan. Ini jelas tak baik untuk perkembangan <strong>psikologis anak</strong>. Anak akan berkembang menjadi pribadi yang bingung. Tak ada aturan baku yang berlaku baginya. Suasana yang tidak harmonis antara ayah dan ibu juga membuat ia tak nyaman di rumah. Jika Anda merasa sudah berusaha menyatukan visi soal mendidik dengan pasangan dan tak membuahkan hasil, sebaiknya mulailah berpikir untuk melibatkan pihak ketiga yang netral, seperti <strong>psikolog keluarga</strong>. Ini upaya terakhir untuk menyatukan pandangan soal mendidik anak antara Anda dan suami.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/kompak-dalam-mendidik-si-kecil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Pendongeng yang Ekspresif</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 00:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa dongeng dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam mendidik anak. Namun, bagaimana cara mendongeng yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/27/0900576p.jpg" alt="0900576p Jadilah Pendongeng yang Ekspresif"  title="Jadilah Pendongeng yang Ekspresif" />Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa <strong>dongeng</strong> dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam <strong>mendidik anak</strong>.</p>
<p>Namun, bagaimana cara mendongeng yang benar agar pesan dapat tersampaikan dengan benar? Kak Kusomo yang dikenal sebagai raja dongeng membagi beberapa tips cara mendongeng yang baik:</p>
<p><strong>1. Pendongeng harus ekspresif</strong>. Untuk menarik perhatian anak, seorang pendongeng harus dapat berekspresi dan enerjik. &#8220;Kalau pendongeng lemas dan datar dalam mendongeng, mana ada anak yang mau mendengar,&#8221; ujar Kak Kusomo.</p>
<p>Menurutnya, dalam mendongeng harus ada perubahan intonasi, mimik wajah, dan gerakan tubuh. &#8220;Oleh karena itu, untuk menjadi pendongeng ekspresif, mimik wajah, intonasi, dan bahasa tubuh harus terus dilatih.&#8221;</p>
<p><strong>2. Banyak membaca</strong>. Menurut Kak Kusomo, seorang pendongeng harus mempunyai banyak cerita. Pasalnya, anak akan bosan jika terus-menerus mendengar cerita yang sama. &#8220;Perbanyaklah membaca cerita-cerita rakyat atau literatur lain. Dengan begitu, pendongeng juga dapat berimprovisasi dalam mendongeng,&#8221; tutur Kak Kusomo.</p>
<p><strong>3. Memilih cerita yang mempunyai pesan</strong>. Tidak semua cerita rakyat mempunyai pesan moral yang bagus bagi anak-anak. &#8220;Ada beberapa cerita rakyat yang tidak cocok untuk anak, misalnya tentang perang saudara dan lain-lain. Jadi pilihlah cerita-cerita yang pesan moral atau budayanya dapat ditiru anak,&#8221; lanjutnya.</p>
<p><strong>4. Sesuaikan dengan usia anak</strong>. Kak Kusomo menuturkan tiap-tiap tingkatan umur. Untuk umur di bawah 5 tahun, dongeng yang cocok adalah mengenai lingkungan, seperti cerita hewan atau tumbuhan. Pada umur 5-7 tahun, anak boleh mulai dikenalkan dengan cerita rakyat. Selanjutnya, anak pada umur 9-12 tahun cocok dengan cerita mengenai fiksi, seperti petualangan. Usia maksimal anak diberi dongeng adalah umur 12 tahun. Setelah itu anak perlu dirangsang dengan metode cerita bersama, seperti diskusi.  </p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="cara mendongeng yang baik">cara mendongeng yang baik</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="tips menjadi pendongeng">tips menjadi pendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="cara mendongeng">cara mendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="metode bercerita di tk">metode bercerita di tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="metode mendongeng">metode mendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="bagaimana cara mendongeng untuk anak hiperaktif">bagaimana cara mendongeng untuk anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="pendongeng">pendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="pendongeng anak">pendongeng anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="menulis ekspresif">menulis ekspresif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="menjadi pendongeng yang baik">menjadi pendongeng yang baik</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 4.629 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Anak Didik Penuh Cinta</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 02:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan mahal]]></category>
		<category><![CDATA[trauma pada anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Mendidik seorang anak mungkin tidak mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit. Banyak cara atau metode yang bisa kita pakai untuk membuat anak kita menjadi seorang sukses, bahagia, ceria, berpandangan jauh ke depan, serta memiliki akhlak mulia. Namun, teori kadang tidak mudah dipraktikkan. Kondisi fisik dan psikis anak satu dengan anak lain tidak sama. Anak adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left src="http://www.dkimages.com/discover/previews/762/341080.JPG" alt="preschool di ponorogo" title="Menjadikan Anak Didik Penuh Cinta" />Mendidik seorang anak mungkin tidak mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit. Banyak cara atau metode yang bisa kita pakai untuk membuat anak kita menjadi seorang sukses, bahagia, ceria, berpandangan jauh ke depan, serta memiliki akhlak mulia.</p>
<p>Namun, teori kadang tidak mudah dipraktikkan. Kondisi fisik dan psikis anak satu dengan anak lain tidak sama. Anak adalah harta dunia dan akhirat yang tidak akan pernah terbeli atau tergantikan oleh materi dunia yang kita miliki.</p>
<p>Fenomena yang terjadi saat ini, ketika mengalami kondisi yang tidak menyenangkan, kita (orang tua atau guru) kadang melampiaskan kepada anak atau murid. Tak jarang kekerasan menjadi salah satu solusi.</p>
<p>Kita lupa bahwa yang begitu bisa membuat anak (murid) menjadi trauma. Penyesalan kita pun kadang hanya membuat suasana tambah rumit. Sebab, tak jarang kita tidak dapat mengubah apa pun yang telah terjadi. Bahkan, kita tidak melakukan perubahan apa pun atas pola pendidikan yang kita terapkan.</p>
<p>Apakah pendidikan dengan kedisiplinan tingkat tinggi yang berujung pada kekerasan merupakan solusi? Akankah budaya premanisme di tingkat pendidikan menjadi pemandangan yang wajar? Atau, akankah pendidikan yang kita berikan hanya berdasar UUD (ujung-ujungnya duit)?</p>
<p>Pendidikan mahal, kekerasan terhadap anak (murid) sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua menyiksa anak karena masalah ekonomi, perceraian, atau tidak menginginkan kehadiran anak. Atau, guru yang menegakkan disiplin dengan main gampar atau menyuruh murid berdiri atau berlari di lapangan yang panas.</p>
<p>Pernahkah kita berpikir bahwa yang kita lakukan itu akan meninggalkan trauma pada anak? Pernahkah kita berpikir bahwa yang kita lakukan itu suatu saat akan ditiru oleh anak (murid) kita? Kalau begitu, bagaimana masa depan anak (murid)? Sudah bukan zamannya mendidik anak (murid) dengan kekerasan.</p>
<p>Kenapa kita tidak mencoba mendidik anak (murid) dengan hati? Bukankah hati tidak pernah berdusta dan penuh cinta serta kasih sayang? Hati kita selalu jujur. Hati kita selalu lemah lembut penuh asih. Tidakkah bahagia yang terasa bila kita mendidik anak (murid) dengan penuh cinta dan kasih sayang?</p>
<p>Selama ini, kita bangga bila anak (murid) takut kepada kita. Padahal, kepatuhan dan ketaatan yang mereka tunjukkan hanyalah fatamorgana. Mereka menuruti keinginan kita, tetapi bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hati mereka. Siksaan batin yang mereka rasakan lebih perih dan sakit ketimbang kekerasan yang kita lakukan. Bahkan, mungkin tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hayat.</p>
<p>Betapa nikmat bila anak (murid) menghormati kita sebagai orang tua atau pendidik tanpa ada paksaan. Betapa indah bila benak anak (murid) menggambar sosok kita sebagai sosok bijak, demokratis, menghargai anak (murid). Kita bukan momok yang menakutkan bagi anak (murid). Kita adalah teman, kakak, adik, orang yang dapat memberikan inspirasi dan support, serta panutan (teladan) di kehidupan mereka.</p>
<p>Menanamkan disiplin kepada anak memang tidak mudah. Namun, itu dapat kita terapkan, asal sesuai dengan karakter dan kepribadian anak (murid). Disiplin tidak selalu identik dengan kekerasan. Kata-kata tegas sudah cukup. Tidak perlu membentak-bentak, apalagi main tangan. Bahkan, dengan kata-kata lembut pun kita dapat menerapkan disiplin kepada anak.</p>
<p>Tidak ada kata terlambat untuk mengubah paradigma lama dalam mendidik anak, paradigma menuntut selalu menuruti segala yang kita katakan dan inginkan. Anak juga punya perasaan. Mereka juga ingin dihargai, didengar, dan diajak berkomunikasi, bila perlu dimintai pertimbangan.</p>
<p>Biarkanlah hati kita yang bicara dan menuntun kita. Percayalah, hati tidak akan pernah berbohong. Jadikanlah anak kita anak-anak yang penuh cinta dan kasih sayang. Ajarkan kepadanya bahwa kekerasan bukanlah solusi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Didiklah anak (murid) kita dengan penuh cinta dan hati tulus tanpa pamrih.</p>
<p><em>sumber : JPNN</em><br />
<em>Dwita Ayu Novaria<br />
Guru TK Rumah Cerdas, Malang</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="anak adalah mutiara hati">anak adalah mutiara hati</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata mutiara dari guru buat anak tk">kata mutiara dari guru buat anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata mutiara hari anak">kata mutiara hari anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata mutiara untuk anak didik">kata mutiara untuk anak didik</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="teori mendidik penuh inspirasi">teori mendidik penuh inspirasi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="masalah anak didik di TK">masalah anak didik di TK</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="lembut hati anak">lembut hati anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata2 mutiara hati">kata2 mutiara hati</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata2 mutiara buat anak didik">kata2 mutiara buat anak didik</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html" title="kata2 mutiara">kata2 mutiara</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 6.267 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/menjadikan-anak-didik-penuh-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
