<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Hati &#187; anak</title>
	<atom:link href="http://www.mutiara-hati.com/tag/anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mutiara-hati.com</link>
	<description>a different touch to be smart</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Mar 2010 00:30:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 01:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak jadi gemuk]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Kegemukan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kanak-kanak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pola makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Kegemukan kini sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Meski di Indonesia kegemukan belum jadi masalah nasional, namun tak sulit menemukan anak-anak yang kegemukan di sekitar kita. 
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity, bila dibandingkan dengan 20 tahun lalu, kini makin banyak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan yang kegemukan. Sebagian ahli menuding [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi  src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/10/13/1524597p.jpg" alt="1524597p Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan"  title="Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan" />Kegemukan kini sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Meski di Indonesia kegemukan belum jadi masalah nasional, namun tak sulit menemukan anak-anak yang kegemukan di sekitar kita. </p>
<p>Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity, bila dibandingkan dengan 20 tahun lalu, kini makin banyak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan yang kegemukan. Sebagian ahli menuding para orangtua menjadi penyebab anak-anak itu kegemukan.</p>
<p>&#8220;Sedikit banyak orangtua berkontribusi menyebabkan epidemi kegemukan,&#8221; kata Dr Elsie Taveras, asisten profesor pediatrik dari Harvard Pilgrim Health Care dan Harvard Medical School. </p>
<p>Tentu saja tidak ada orangtua yang sengaja ingin membuat anaknya kegemukan. Namun, tanpa disadari kebiasaan orangtua dalam hal makanan menyebabkan anak jadi gemuk. </p>
<p>Menurut Taveras, anak yang terlanjur kegemukan pada masa kecilnya memiliki kecenderungan gemuk pada saat dia memasuki masa kanak-kanak. &#8220;Anak-anak yang berat badannya naik dengan pesat pada masa 6 bulan pertama, memiliki risiko obesitas lebih besar saat mereka berusia 3 tahun,&#8221; katanya. </p>
<p>Beberapa penelitian juga menyebutkan pola makan yang ditanamkan orangtua kepada anak-anaknya menyebabkan mereka jadi kegemukan. Profesor John Worobey, ketua departemen ilmu nutrisi dari Rugers University, AS, mengevaluasi kebiasaan para ibu dalam memberi makan anak-anaknya.</p>
<p>Worobey dan timnya mengamati 96 ibu dan memberi kuesioner pada mereka mengenai apa yang dilakukan para ibu saat anak mereka rewel dan mengamati bagaimana anak-anak tersebut diberi makan.</p>
<p>Para ibu yang memberi makan anaknya 8 kali dalam sehari dan juga kurang teliti membaca aturan pemberian makan yang terdapat dalam kemasan makanan, cenderung memiliki anak yang gemuk di usia 6-12 bulan. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam Journal of Nutrition Education and Behaviour.</p>
<p>Untuk mencegah obesitas, para orangtua diminta untuk menyajikan makanan yang terkontrol kandungan gizi dan porsinya. Selain itu, hilangkan kebiasaan menyuapi anak atau membiarkan anak makan sambil menonton televisi. </p>
<p>Orangtua sebaiknya mulai waspada bila anaknya tak suka banyak bergerak, suka mengemil makanan yang manis, berlemak dan berkalori tinggi. Sedangkan tanda-tanda pada badannya mulai menunjukkan adanya lipatan kulit pada paha, leher, dada, dan perut.</p>
<p>Yang tak kalah penting, mulai saat ini hilangkan anggapan anak gemuk itu lucu dan sehat. Karena kegemukan adalah masalah kesehatan.</p>
<p><em>sumber : KOMPAS</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html" title="FAKTOR PENYEBAB KEGEMUKAN PADA ANAK TK">FAKTOR PENYEBAB KEGEMUKAN PADA ANAK TK</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html" title="kuesioner toilet training">kuesioner toilet training</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html" title="Obesitas pd by usia 6bln">Obesitas pd by usia 6bln</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html" title="penyebab dari kegemukan anak tk">penyebab dari kegemukan anak tk</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.16 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menstimulasi Perkembangan Otak Anak</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 00:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual anak]]></category>
		<category><![CDATA[liburan edukatif]]></category>
		<category><![CDATA[Otak Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Perkembangan Otak Anak]]></category>
		<category><![CDATA[tempat liburan edukatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[MENIKMATI masa liburan sangat menyenangkan bagi si kecil.Sebaiknya orangtua mengisinya dengan kegiatan menyenangkan sekaligus mendidik.
Tujuannya,tentu saja menambah pengetahuan. Pakar emotional intelligence dari Radani Edutainment, Hanny Muchtar Darta, Certified EI PSYCH-K SET mengatakan, banyak cara melewatkan liburan menyenangkan sekaligus mendidik. Misalnya,melewati liburan dengan mengunjungi museum atau kebun binatang. ’’Memberikan liburan yang bersifat edukatif bisa menjadi pilihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/kids101.jpg" alt="dunia anak" title="dunia anak" width="200" class="alignleft size-full wp-image-300" />MENIKMATI masa liburan sangat menyenangkan bagi si kecil.Sebaiknya orangtua mengisinya dengan kegiatan menyenangkan sekaligus mendidik.</p>
<p>Tujuannya,tentu saja menambah pengetahuan. Pakar emotional intelligence dari Radani Edutainment, Hanny Muchtar Darta, Certified EI PSYCH-K SET mengatakan, banyak cara melewatkan liburan menyenangkan sekaligus mendidik. Misalnya,melewati liburan dengan <strong>mengunjungi museum atau kebun binatang</strong>. ’’<strong><em>Memberikan liburan yang bersifat edukatif bisa menjadi pilihan untuk menetralisasi ketegangan saat di sekolah. Pikiran mereka akan lebih rileks dan bisa menumbuhkan semangat baru untuk belajar</em></strong>,’’ paparnya.</p>
<p>Hanny menambahkan, fungsi <strong>liburan edukatif</strong> sama seperti belajar di luar kelas. ’’Biasanya anak-anak akan lebih semangat karena suasananya santai dan tidak kaku,’’ ungkap Ketua Radani Edutainment dan El Center (yayasan sosial dengan kegiatan menstimulasi kecerdasan dan kesehatan anak dan keluarga) ini. Liburan edukatif sama juga menggunakan liburan sebagai salah satu pendekatan dalam menstimulasi perkembangan otak anak.</p>
<p>Artinya, liburan tersebut bisa mencerdaskan emosi ataupun <strong>intelektual anak</strong>.’’Saya sudah melakukan survei ke beberapa tempat liburan. Ternyata di Indonesia terdapat 175 <strong>tempat liburan edukatif</strong>,” ujar ibu dua anak ini. Selanjutnya, Hanny juga mengingatkan agar liburan edukatif sebaiknya dilakukan sebulan sekali.</p>
<p>’’Dengan liburan edukatif, mampu menguatkan jaringan-jaringan (neural pathways) di otak yang semakin kuat sehingga anak mudah menerima pengetahuan baru, baik yang dilihat, didengar, dan dirasakannya,’’ papar wanita yang mengambil pendidikan psychology kinesiology (PSYCH-K) di California dan Miami pada 2006 dan 2007 ini. Sementara itu, konselor dan Kepala Lembaga Pelayanan Psikologi dari Universitas Krida Wacana (LPP UKRIDA) Clara Moningka SPsi MSi mengatakan, liburan yang dipilih orangtua bagi anak haruslah menyenangkan.</p>
<p>Dia juga mengingatkan, saat musim liburan sebaiknya anak jangan dibiarkan hanya menonton film atau ber-game ria. ’’Karena tidak ada aktivitas fisik dan membuat mereka menjadi malas,’’ ucapnya. Sebaiknya liburan diisi dengan banyak kegiatan yang menambah wawasan,misalnya diajak ke suatu tempat seperti Candi Prambanan atau Borobudur. ’’Orangtua bisa ikut menceritakan asal usul tempat tersebut,” ucapnya.</p>
<p><strong>Sesuaikan Usia Anak </strong><br />
Liburan edukatif ternyata bisa dilakukan di mana saja. Untuk pemilihan tempat, sebaiknya sesuaikan usia anak. ’’Sebaiknya semua kegiatan liburan disesuaikan usia anak, yang juga disesuaikan dengan tahap perkembangannya,” tutur Clara Moningka.</p>
<p>Clara menjelaskan, <strong>anak berusia lima tahun ke bawah sebaiknya lebih banyak diberikan waktu bermain</strong>. Sementara itu, <strong>untuk anak lima tahun ke atas lebih difokuskan dengan aktivitas di luar ruangan</strong>. Untuk waktu liburannya,Clara mengatakan tidak ada patokan. Artinya, semua tergantung kepribadian anak.Pada dasarnya liburan adalah sarana refreshing, melepaskan diri dari aktivitas dan ketegangan. ’’Jadi,tergantung pribadi anak, tetapi liburan edukatif seharusnya tidak membuat anak menjadi malas.</p>
<p>Sebab, tujuannya membuat anak punya semangat belajar baru,” ujar Clara. Sementara itu,Hanny Muchtar Darta, Certified EI,PSYCH-K SET menuturkan, untuk menentukan waktu liburan harus dibatasi. ’’Tujuan berlibur adalah membuat anak mempunyai pengalaman baru. Jadi,waktunya pun harus ditentukan. Sebab,jika terlalu lama malah akan membuat anak menjadi malas dan tidak bertanggung jawab untuk ke sekolah,”ucapnya.</p>
<p>Hanny juga mengingatkan, orangtua tidak harus memilih tempat liburan dengan ongkos yang mahal.’’Orangtua harus kreatif untuk mencari tempat liburan edukatif dengan biaya terjangkau,’’ tandasnya.</p>
<p><em>sumber : Koran Sindo</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="menstimulasi bayi 6 bulan">menstimulasi bayi 6 bulan</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="mainan mencerdas kan otak untuk 1 tahun keatas">mainan mencerdas kan otak untuk 1 tahun keatas</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="perkembangan otak bayi 1 bulan">perkembangan otak bayi 1 bulan</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="perkembangan otak anak sekolah">perkembangan otak anak sekolah</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="perkembangan anak 1 tahun keatas">perkembangan anak 1 tahun keatas</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="perkembangan otak untuk belajar">perkembangan otak untuk belajar</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="origami ransangan otak">origami ransangan otak</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="Menstimulasi otak baby 4 bulan">Menstimulasi otak baby 4 bulan</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="menstimulasi kecerdasan anak">menstimulasi kecerdasan anak</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html" title="penyebab anak usil sewaktu belajar">penyebab anak usil sewaktu belajar</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.475 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/menstimulasi-perkembangan-otak-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blowing Balloon Tingkatkan Konsentrasi Anak Autis</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 01:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak autis]]></category>
		<category><![CDATA[blowing balloon]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[taman kanak-kanak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Pendekatan &#8220;bermain sambil belajar&#8221; umumnya diberikan untuk anak prasekolah, taman kanak-kanak, dan anak usia SD. Pendekatan itu efektif karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memenuhi perasaan ingin tahu, kemampuan inovatif, kritis, dan kreatif, juga membantu mengatasi perasaan bimbang dan tertekan. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain, anak belajar sesuai tuntutan taraf perkembangannya.
Pendekatan bermain sambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi width=200 alt="anak autis" src="http://hil4ry.files.wordpress.com/2007/10/autis1.jpg&#038;imgrefurl=http://hil4ry.wordpress.com/2007/09/&#038;usg=__uC7xBMEqb8krKTWO7tuPbv0Hjkg=&#038;h=298&#038;w=298&#038;sz=16&#038;hl=en&#038;start=1&#038;um=1&#038;tbnid=fOXl8W9a4HoXNM:&#038;tbnh=116&#038;tbnw=116&#038;prev=/images%3Fq%3DAnak%2BAutis%26hl%3Den%26client%3Dopera%26rls%3Den%26sa%3DN%26um%3D1" title="anak autis" />Pendekatan &#8220;bermain sambil belajar&#8221; umumnya diberikan untuk anak prasekolah, taman kanak-kanak, dan anak usia SD. Pendekatan itu efektif karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memenuhi perasaan ingin tahu, kemampuan inovatif, kritis, dan kreatif, juga membantu mengatasi perasaan bimbang dan tertekan. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain, anak belajar sesuai tuntutan taraf perkembangannya.</p>
<p>Pendekatan bermain sambil belajar tidak hanya efektif untuk anak normal. Berdasar kegiatan yang penulis lakukan, pendekatan tersebut juga dapat diterapkan untuk anak autis.</p>
<p>Pendekatan bermain sambil belajar untuk anak autis dilakukan dalam rangka meningkatkan konsentrasi anak agar dapat mengikuti pembelajaran. Sebab, kemampuan konsentrasi anak autis berbeda dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) lain. Tandanya, kontak mata sangat kurang, ekspresi wajah kurang hidup, gerak-gerik kurang tertuju, serta kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional timbal balik.</p>
<p>Untuk itu, diperlukan permainan yang dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi anak selama pembelajaran berlangsung. Misalnya, permainan blowing balloon dapat dimanfaatkan guru pembimbing khusus (GPK) sebagai alternatif permainan sekaligus kegiatan belajar mengajar dalam mengenalkan konsep &#8220;besar-kecil&#8221; bagi anak autis.</p>
<p>Caranya, sebelum memulai permainan, GPK mempersiapkan alat/bahan. Permainan blowing balloon bisa dibeli di toko mainan, toko makanan kecil, pasar, dan tempat-tempat yang menjual mainan anak. Permainan itu terdiri atas pasta blowing balloon dalam tube kecil dan sedotan kecil sebagai alat tiup.</p>
<p>Setelah siap, GPK menunjukkan, bila perlu memberikan, alat permainan tersebut kepada anak autis agar anak tertarik. GPK lalu mencontohkan cara menggunakan permainan tersebut. Misalnya, untuk mengenalkan konsep &#8220;besar&#8221;, GPK mengambil pasta blowing balloon lebih banyak agar saat ditiup, blowing balloon yang terbentuk juga besar. Untuk mengenalkan konsep &#8220;kecil&#8221;, GPK mengambil pasta blowing balloon lebih sedikit agar saat ditiup blowing balloon yang terbentuk juga kecil.</p>
<p>Begitu blowing balloon besar dan kecil sudah terbentuk, guru mengajak anak autis memantul-mantulkannya ke udara sambil mengucapkan &#8220;besar&#8221; bila yang dipantulkan blowing balloon besar. Demikian pula, anak diajak mengatakan &#8220;kecil&#8221; bila yang dipantulkan blowing balloon kecil.</p>
<p>Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengenal konsep &#8220;besar-kecil&#8221;, GPK memberikan perintah sederhana. Misalnya, tunjuk mana blowing balloon yang besar dan mana blowing balloon yang kecil. Untuk mengetahui sejauh mana anak autis mengingat blowing balloon yang sudah ditunjuk, GPK memberikan perintah sederhana &#8220;ambil&#8221;. Maksudnya, ambil blowing ballon yang besar dan ambil blowing ballon yang kecil.</p>
<p>Berdasar pengalaman penulis, permainan blowing balloon mampu meningkatkan konsentrasi anak autis hingga 75 persen dan dapat dijadikan alternatif permainan untuk mengenalkan konsep besar-kecil.</p>
<p><em>sumber : JPNN<br />
Oleh Badrut Tamam, Guru SDN Mriyunan, Sidayu, Gresik</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="cara meningkatkan konsentrasi belajar pada anak hiperaktif">cara meningkatkan konsentrasi belajar pada anak hiperaktif</a> (4)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="mainan anak autisme">mainan anak autisme</a> (3)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk anak autis dan hiperaktif">permainan untuk anak autis dan hiperaktif</a> (3)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan konsentrasi anak">permainan konsentrasi anak</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk meningkatkan konsentrasi">permainan untuk meningkatkan konsentrasi</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="Permainan-permainan Konsentrasi">Permainan-permainan Konsentrasi</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="tingkatkan konsentrasi belajar pada anak usia sd">tingkatkan konsentrasi belajar pada anak usia sd</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan untuk anak autis">permainan untuk anak autis</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan konsentrasi untuk anak">permainan konsentrasi untuk anak</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html" title="permainan konsentrasi di dalam kelas">permainan konsentrasi di dalam kelas</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.772 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/blowing-balloon-tingkatkan-konsentrasi-anak-autis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
