Stimulasi IQ-EQ-SQ sejak Prasekolah





pre school mutiara hati 31 Stimulasi IQ EQ SQ sejak PrasekolahKonsep tradisional tentang inteligensi seseorang mengemukakan bahwa tingkat kecerdasan merupakan faktor bawaan yang sudah ditentukan sejak lahir. Karena itu, siapa pun tidak dapat mengubah, apalagi meningkatkan, kadar inteligensi seseorang.

Namun, seiring perkembangan pendidikan, konsep tersebut mulai tergeser oleh hasil penelitian yang secara intens mempelajari cara meningkatkan kecerdasan seseorang. Hasilnya, tingkat kecerdasan seseorang dapat ditingkatkan. Caranya, antara lain, menyekolahkan dan meningkatkan asupan gizi untuk perkembangan saraf otak.

Upaya meningkatkan intelektual peserta didik di sekolah tidak mungkin dilakukan secara instan. Hal itu harus dilakukan secara stimultan sejak dini, sejak usia prasekolah, dengan menyediakan atau menciptakan lingkungan yang memberi stimulasi intelektual. Sebab, inteligensia anak tidak akan berkembang hanya dengan memperhatikan sudut gizi tanpa memperhatikan sudut lingkungan.

Dari sudut pendidikan, inteligensi didefinisikan sebagai kemampuan mengunakan potensi intelek untuk belajar. Sedangkan hasil belajar merupakan pengetahuan yang dimulai dari pengalaman indra, persepsi, imajinasi, konsentrasi, abstraksi, penilaian, dan penalaran. Proses tersebut menyangkut daya ingat atas bahan yang diperoleh sebelumnya, kemudian dikeluarkan untuk proses lebih lanjut (M.S. Hadisubrata, 1988)

Secara kongkret dapat dikatakan, anak dengan kadar intelek dan inteligensi tinggi (cerdas) adalah anak yang pengamatannya tajam, daya persepsi dan imajinasinya kuat, daya abstraksi dan apresiasinya tinggi, daya penalarannya lurus, serta daya konsentarsi dan daya ingatnya kuat.

Pertanyaannya, seberapa jauh urgensi stimulasi untuk merangsang perkembangan IQ (intelegence quotient), EQ (emotional quotient), dan SQ (spiritual quotient)? Hasil penelitian psikolog Skeels dan Dye (1938), White (1971), dan psikolog lain menyimpulkan hal-hal berikut.

Pertama, tanpa stimulasi dari lingkungan, anak tidak akan dapat mengaktualisasikan potensi inteleknya secara maksimal. Di sini, anak belum mencapai titik IQ, EQ, dan SQ optimal yang seharusnya bisa dicapai.

Kedua, ada kecenderungan para ahli untuk merangsang perkembangan inteligensi secara maksimal dalam dua kategori, nonverbal dan verbal. Yang termasuk nonverbal adalah aktivitas untuk merangsang pengakraban indera seperti mainan dan aktivitas fisik lain sejenis.

Sedangkan yang dimaksud verbal adalah berbicara, menghafal, mengajar bahasa, dan sejenisnya. Bagi peserta didik di kelas rendah (SD, TK, playgroup), dua jenis rangsangan itu merupakan learn climate (iklim belajar) seperti halnya yang terjadi pada peserta didik di kelas menengah (SMP, SMA).

Yang paling perlu diingat dalam rangka stimulasi kecerdasan, emosi, dan spiritual adalah peran orang tua dan guru sama-sama penting. Fungsi sekolah dan lingkungan keluarga, dan tempat bermain sama vitalnya. Semua harus saling mendukung, tidak boleh ada satu aspek pun yang lemah.

Untuk mendapatkan tingkat intelektual yang optimal di semua jenjang pendidikan, stimulasi harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak prasekolah. Pada masa bayi, orang tua bertanggung jawab merangsang indera, aktivitas motorik, dan bahasa. Idealnya, anak usia 12 bulan harus bisa menjawab pertanyaan kita. Meski, saat ditanya “mana mobilnya”, anak hanya menunjuk ke lantai seraya merangkak mengambil mobil-mobilannya.

Karena itu, perlu sekali merangsang inteligensi peserta didik sedini mungkin, sejak usia pembentukan, saat masih mudah merangsang perkembangan kecerdasan, emosi, dan fisik. Grade perkembangan yang diperoleh pada masa balita itulah yang nanti menjadi dasar pola perkembangan inteligensi selanjutnya. Sehingga, tidak aneh bila tingkat kecerdasan, stabilitas emosi, dan kepekaan sosial peserta didik di tingkat SMP/SMA sangat variatif meski mereka belajar di satuan pendidikan dengan fasilitas sama.

sumber : JPNN
Oleh: Ismawati, Guru SMP At-Tholhawiyah Modung, Bangkalan

Incoming search terms for the article:


Baca juga ...

  • Si Kecil Tidak Berani Tampil
  • Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet
  • Program Keuangan Usanjaya-Intan Tirza untuk Pendidikan Anak
  • Mutiara Hati mengadakan outbond ke Polres Ponorogo
  • Blowing Balloon Tingkatkan Konsentrasi Anak Autis
  • Mari Menggambar sejak Kecil
  • Penggunaan Gadget pada anak, Hindarkan sebelum Usia Enam Tahun
  • Memilih Mainan Sesuai Usia Anak
  • Pos PAUD Terpadu, Mempermulus Jalan Anak Menuju Generasi Unggul
  • Mutiara Hati Preschool & Kindergarten mengadakan Greeting with Mom

  • 1 Tanggapan

    1. ima
      #1

      yoi, memamg harus mengedepankan positif thinking pada anak

    Berikan tanggapan





    XHTML: Anda bisa menggunakan tag : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Improve the web with Nofollow Reciprocity.
    Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.