Memisahkan Anak dari benda kesayangannya
Orang tua tidak perlu terlalu khawatir bila anak terbiasa membawa benda-benda kesayangan. Anak melakukan hal tersebut karena merasa aman dan nyaman bila membawa barang itu.
”Anak terbiasa karena dibiasakan. Maksudnya, sejak kecil anak terbiasa bermain dan dekat dengan benda-benda tersebut. Itu yang membuat dia nyaman bila berada di dekat benda tersebut. Akhirnya, hal itu menjadi kebiasaan,” kata Maria Farida Kurniawati.
Selama masih masuk kategori usia anak, kebiasaan tersebut tidak perlu dirisaukan. Yang bermasalah, kebiasaan itu berlanjut hingga anak beranjak dewasa, bahkan setelah menikah. ”Ada lho yang sudah menikah, tapi tetap ingin dekat dengan benda kesayangannya. Itu masalah. Kalau masih anak, tidak ada masalah kok,” tutur ketua Yayasan Baby Smile School tersebut.
Maria menyatakan, orang tua tidak perlu bersikap ekstrem dengan memisahkan anak dari benda-benda kesayangannya. Asal, benda kesayangan tersebut tidak membahayakan atau mengganggu. “Misalnya, bila anak terbiasa membawa guling, bantal, atau boneka, tidak terlalu urgent untuk segera memisahkan benda-benda itu dari anak,” terangnya.
Lain halnya bila benda kesayangan tersebut berupa dot (empeng). Menurut Maria, benda itu perlu segera dipisahkan dari anak. Sebab, empeng tidak baik bagi perkembangan fisik anak. ”Empeng bisa berdampak pada bentuk gigi anak. Itu kan bisa mengganggu penampilan anak saat dewasa,” katanya.
Bisakah kebiasaan membawa benda kesayangan tersebut berhenti? Menurut Maria, bisa. Seiring bertambahnya usia dan rasa percaya diri anak, kebiasaan itu akan hilang sendiri. Makin dewasa, anak akan malu dan tak percaya diri bila terus membawa benda kesayangan tersebut. ”Dengan catatan, orang tua juga membiasakan anak tak membawa benda kesayangannya itu,” paparnya.
Misalnya, bila benda kesayangan tersebut tidak dibawa saat pergi ke luar kota, orang tua harus bisa menenangkan anak yang mungkin menangis atau tidak bisa tidur. ”Beri pengertian kepada anak bahwa dia tidak harus tidur dengan benda kesayangannya. Beri anak guling pengganti atau boneka lain,” ungkapnya.
Awalnya memang susah. Anak akan memberontak. Tapi, Maria menegaskan, anak terbiasa karena dibiasakan orang tua. Karena itu, orang tua sebaiknya pintar-pintar mengalihkan perhatian anak agar tidak teringat terus kepada benda kesayangannya.
Menurut dia, hal tersebut sama halnya dengan kasus anak yang tidak bisa makan bila tidak sambil menonton televisi. ”Cari sela saat perhatian anak bisa dialihkan,” tuturnya. Bila orang tua telaten, lambat laun anak akan membiasakan diri dengan barang atau mainan baru.
Dosen Fakultas Psikologi Unair Hamidah menjelaskan perlunya orang tua menjaga kebersihan benda kesayangan anak. Salah satunya, rajin mencuci benda tersebut. Memang, ada kalanya anak menolak benda kesayangannya dicuci. ”Beri pemahaman ke anak bahwa bila benda kesayangannya kotor, bisa menimbulkan penyakit,” katanya.
sumber : JPNN