<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Hati</title>
	<atom:link href="http://www.mutiara-hati.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mutiara-hati.com</link>
	<description>a different touch to be smart</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 00:47:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Menuntun Anak Melalui Jalan Berliku di Media Online</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/menuntun-anak-melalui-jalan-berliku-di-media-online.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/menuntun-anak-melalui-jalan-berliku-di-media-online.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 00:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[komputer sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[MySpace]]></category>
		<category><![CDATA[Pornografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Mencuatnya berita mengenai bahayanya situs jejaring sosial seperti Facebook akhir-akhir ini kian mempertegas perlunya partisipasi intensif orang tua untuk melindungi anak-anak mereka dalam pergaulan dunia maya.
Hal pertama yang harus disadari banyak orang tua adalah anak-anak mereka akan selalu memiliki akses ke internet, seberapapun mereka berusaha mengendalikan apa yang anak-anak mereka lakukan dan lihat di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi width=300 src="http://img185.imageshack.us/img185/1646/computerforkidsjf8.jpg" alt="computerforkidsjf8 Menuntun Anak Melalui Jalan Berliku di Media Online"  title="Menuntun Anak Melalui Jalan Berliku di Media Online" />Mencuatnya berita mengenai bahayanya situs jejaring sosial seperti <strong>Facebook</strong> akhir-akhir ini kian mempertegas perlunya partisipasi intensif orang tua untuk melindungi anak-anak mereka dalam pergaulan dunia maya.</p>
<p>Hal pertama yang harus disadari banyak orang tua adalah anak-anak mereka akan selalu memiliki akses ke internet, seberapapun mereka berusaha mengendalikan apa yang anak-anak mereka lakukan dan lihat di <strong>dunia maya</strong> itu.</p>
<p>Anak-anak selalu memiliki rasa ingin tahu yang amat tinggi dan cerdik. Mereka akan mendapatkan akses ke internet bila mereka mau. Tergantung dari umur anak itu, mereka pasti memiliki akes ke internet yang tidak semua bisa anda kendalikan.</p>
<p>Dari mulai <strong>komputer sekolah</strong>, perpustakaan, komputer teman-teman mereka dan alat-alat komunikasi mobile seperti telepon selular, juga konsol permainan yang tersambung ke internet seperti Xbox dan Wii &#8212; mereka pasti memiliki jalan untuk mendapatkan akses Internet.</p>
<p>Hanya di rumah orang tua memiliki kendali terhadap kehidupan online anak-anak mereka, dan para orang tua harus memanfaatkan saat-saat tersebut untuk melindungi anak-anak mereka. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk memaksimalisasi perlindungan yang dapat diberikan pada anak-anak yang making sering bergaul di dunia maya.</p>
<p>Orang tua harus mau berdialog secara jujur dan terbuka dengan anak-anak mereka mengenai ancaman yang menunggu mereka di internet. Pastikan juga semua komputer di rumah Anda dan semua alat-alat komunikasi mobile Anda telah dilindungi perangkat lunak keamanan yang termutakhir.</p>
<p>Bicaralah dengan anak-anak Anda tentang bahaya yang menanti mereka di internet dan kenapa anda, sebagai orang tua, berusaha melindungi mereka. Libatkanlah diri anda dalam kehidupan online anak-anak anda, dan perbincangkanlah dengan terbuka pengalaman mereka di sana.</p>
<p>Pastikan Anda memiliki aturan yang jelas mengenai kapan mereka bisa online, situs-situs apa saja yang bisa mereka kunjungi dan berapa lama mereka boleh online. Pastikan anak-anak Anda mengerti semua aturan ini.</p>
<p>Orang tua juga harus mengenali ancaman yang paling sering muncul di internet seperti:</p>
<p>    * Malware atau piranti perusak seperti virus, trojan, worm dan rootkit<br />
    * Konten-konten ilegal seperti file-file yang melanggar hak cipta.<br />
    * Misrepresentasi yang sering terjadi di situs jejaring sosial seperti Facebook dan <strong>MySpace</strong>. Banyak orang yang menggunakan identitas palsu untuk menjerat anak-anak anda.<br />
    * <strong>Pornografi</strong>.</p>
<p>Untuk mengatasi ancaman ini, orang tua bukan hanya tinggal mengunduh piranti keamanan. Tapi juga harus mengambil beberapa langkah bijaksana. Salah satu caranya adalah dengan memulai memahami piranti yang dapat membantu anda mengendalikan kehidupan online anak-anak. Piranti ini biasanya terbagi dalam tiga kategori:</p>
<p>   1. Content Filtering – yaitu piranti yang dapat menghentikan akses anak anda terhadap isi suatu situs yang tidak diinginkan.<br />
   2. Fitur penggunaan – yaitu piranti yang dapat membatasi waktu yang dihabiskan anak-anak anda di Internet.<br />
   3. Monitoring – yaitu piranti yang dapat membantu anda mengawasi kehidupan online anak-anak Anda.</p>
<p><em>sumber detikinet</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/menuntun-anak-melalui-jalan-berliku-di-media-online.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Hati Preschool &amp; Kindergarten memperingati Tahun Baru Cina Imlek 2561</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-memperingati-tahun-baru-cina-imlek-2561.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-memperingati-tahun-baru-cina-imlek-2561.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 02:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Mandarin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam rangka memperingati Tahun Baru Cina (Imlek 2561), pada hari Selasa 16 Pebruari 2010, &#8220;Mutiara Hati&#8221; Preschool&#038;Kindergarten mengadakan kegiatan cerdas cermat dengan materi bahasa Mandarin. 
Kegiatan diakhiri dengan Selamat Tahun Baru Cina dari teman-temannya.
GONG XI FA CAI&#8230;..

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/DSCN4704.jpg" alt="DSCN4704 Mutiara Hati Preschool & Kindergarten memperingati Tahun Baru Cina Imlek 2561" title="DSCN4704" width="300" height="224" class="alignnone size-full wp-image-477" /><br />
Dalam rangka memperingati Tahun Baru Cina (Imlek 2561), pada hari Selasa 16 Pebruari 2010, &#8220;Mutiara Hati&#8221; Preschool&#038;Kindergarten mengadakan kegiatan cerdas cermat dengan materi <strong>bahasa Mandarin</strong>. </p>
<p>Kegiatan diakhiri dengan Selamat Tahun Baru Cina dari teman-temannya.<br />
GONG XI FA CAI&#8230;..<br />
<img class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/DSCN4679.jpg" alt="DSCN4679 Mutiara Hati Preschool & Kindergarten memperingati Tahun Baru Cina Imlek 2561" title="DSCN4679" width="300" height="224" class="alignnone size-full wp-image-478" /><img class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/DSCN4688.jpg" alt="DSCN4688 Mutiara Hati Preschool & Kindergarten memperingati Tahun Baru Cina Imlek 2561" title="DSCN4688" width="300" height="224" class="alignnone size-full wp-image-480" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-memperingati-tahun-baru-cina-imlek-2561.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Hati Preschool &amp; Kindergarten mengadakan Gathering with Parents</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 01:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering with Parents]]></category>
		<category><![CDATA[kanker payudara]]></category>
		<category><![CDATA[kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[Kenali Kanker Sejak Dini]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Kanker Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 11 Pebruari 2010, &#8220;Mutiara Hati&#8221; Preschool &#038; Kindergarten mengadakan Gathering with Parents untuk yang ke-2 kalinya. Kegiatan Gathering with Parents kali ini mengambil tema &#8220;Kenali Kanker Sejak Dini&#8220;, khususnya kanker servik &#038; kanker payudara, dengan narasumber: dr. Nurhayati dari Yayasan Kanker Indonesia, Jakarta. Para orangtua murid, khususnya ibu-ibu sangat antusias mengikuti kegiatan ini, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/DSCN4656.jpg" alt="DSCN4656 Mutiara Hati Preschool & Kindergarten mengadakan Gathering with Parents" title="DSCN4656" width="300" height="224" class="alignnone size-full wp-image-474" />Kamis, 11 Pebruari 2010, &#8220;Mutiara Hati&#8221; Preschool &#038; Kindergarten mengadakan Gathering with Parents untuk yang ke-2 kalinya. Kegiatan Gathering with Parents kali ini mengambil tema &#8220;<strong>Kenali Kanker Sejak Dini</strong>&#8220;, khususnya kanker servik &#038; kanker payudara, dengan narasumber: dr. Nurhayati dari <strong>Yayasan Kanker Indonesia</strong>, Jakarta. Para orangtua murid, khususnya ibu-ibu sangat antusias mengikuti kegiatan ini, dengan mengajukan berbagai pertanyaan seputar <strong>kanker servik</strong> &#038; <strong>kanker payudara</strong>.</p>
<p><img class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/wp-content/uploads/DSCN4652.jpg" alt="DSCN4652 Mutiara Hati Preschool & Kindergarten mengadakan Gathering with Parents" title="DSCN4652" width="300" height="224" class="alignnone size-full wp-image-475" /><br />
Secara umum ada 4 faktor pemicu sel kanker dalam tubuh kita :<br />
1. Faktor Genetik<br />
   Kanker tidak menular tetapi menurun. Bila kita memiliki riwayat kanker dalam keluarga, maka    kita mudah terserang kanker dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat kanker.</p>
<p>2. Faktor Kimia<br />
   Contohnya : radiasi suara (HP&#038;telepon), radiasi sinar matahari, komputer, laser, dan juga     zat-zat kimia.</p>
<p>3. Faktor Makanan<br />
   Makanan yang mengandung zat karsinogen, contohnya : pengawet, pewarna sintesis, pengenyal,    pemanis buatan, dan penyedap rasa secara umum.</p>
<p>4. Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam penyimpanan dan pengolahan makanan.<br />
   > Menggunakan penghangat nasi lebih dari 24 jam karena akan dapat mengubah kadar protein      dalam nasi.<br />
   > Menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang kali lebih dari tiga kali pemakaian.<br />
   > Daging yang dimasak dengan suhu yang tinggi atau dibakar. contohnya : sate, ayam bakar,         daging bakar, dll.<br />
   > Daging suntik (ayam boiler).<br />
   > Jamur yang terdapat pada makanan yang mengandung minyak/ jamur flavus.</p>
<p>A. KANKER SERVIK/MULUT RAHIM<br />
   adalah kanker yang menyerang bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke vagina.<br />
   Faktor resikonya :<br />
   * Wanita yang aktif melakukan hubungan seksual<br />
   * Wanita yang tidak menjaga kebersihan vagina<br />
   * Wanita yang berhubungan seksual sebelum 20 tahun (pernikahan dini)<br />
   * Wanita yang suka berganti-ganti pasanagan (PSK)<br />
   * Wanita yang melahirkan anak dengan jarak yang dekat (min 3-4 tahun)<br />
   * Wanita perokok &#038; alkoholik</p>
<p>   Gejala Kanker Servik<br />
   * Keluar cairan encer dari vagina/ keputihan, untuk stadium lanjut cairan tersebut berwarna      kuning kemerahan dengan bau sangat menyengat.<br />
   * Sering timbul rasa gatal berlebihan di bagian dalam vagina, bahkanb terkadang timbul koreng      di bagian dalam vagina.<br />
   * Sering timbul perdarahan setelah memasuki masa menopause.<br />
   * Sering terjadi perdarahan setelah melakukan hubungan seksual.<br />
   * Timbul kutil di sekitar vagina.</p>
<p>B. KANKER PAYUDARA<br />
   yang mudah terserang kanker payudara adalah :<br />
   Faktor resiko kanker payudara<br />
   * Ibu yang tidak mau menyusui anaknya.<br />
   * Ibu yang menyusui anaknya tidak sampai selesai 2 tahun.<br />
   * Wanita yang melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun.<br />
   * Wanita yang menggunakan hormone tertentu digunakan secara berlebihan (hormon penambah      gairah).<br />
   * Wanita perokok &#038; alkoholik.<br />
   * Wanita yang menggunakan pil kontrasepsi pada usia muda.<br />
   * Wanita yang pernah melakukan terapi radiasi pada daerah sekitar payudara.</p>
<p>   Gejala Kanker Payudara<br />
   * Pembengkakan kelenjar getah bening di bawah ketiak<br />
   * Payudara mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai timbul pembengkakan<br />
   * Payudara merenggang<br />
   * Kulit payudara seperti kulit jeruk<br />
   * Mengeluarkan cairan dari putih susu<br />
   * Mulai timbul bintik hitam di sekitar payudara seperti kutil<br />
   * Terasa gatal di sekitar puting<br />
   * Puting payudara terlihat ke dalam</p>
<p>         PENCEGAHAN<br />
1. Vaksin HPV (Human Pappiloma Virus)<br />
   Caranya :<br />
   a. Vaksin pertama 2 bulan berikutnya<br />
   b. Vaksin kedua 6 bulan berikutnya<br />
   c. Vaksin ketiga<br />
   Apabila seseorang belum melakukan hubungan seksual dari usia 9 s.d 26 tahun sangat efektif       dan diperkirakan terbebas kanker seumur hidup.<br />
2. Mengkonsumsi tumbuhan herbal (kunyit putih zedoaria) dan apabila dikonsumsi selama 3 bulan    berturut-turut maka secara alami zat RIP tersebut dapat mencegah pertumbuhan sel kanker    selama 5 s/d 10 tahun ke depan.</p>
<p>         PENGOBATAN<br />
1. Pembedahan (operasi)<br />
2. Penyinaran (kemoterapi)<br />
3. Obat pembunuh sel-sel kanker (sitostatika/kemoterapi) atau peningkatan daya tahan    tubuh/imunoterapi.</p>
<p>Herbal adalah harapan baru bagi penderita kanker. Berdasarkan hasil penelitian PAU (Pusat Antar Universitas) UGM Yogyakarta Fakultas farmasi, bahwa kunyit putih (Curcuma Zedoaria) berfungsi :<br />
1. Mampu menon-aktifkan perkembangan sel kanker<br />
2. Memblokir pertumbuhan sel kanker<br />
3. Mematikan sel kanker tanpa merusak jaringan sel lainnya</p>
<p>Khasiat Curcuma Zedoaria / RIP<br />
# Dapat mengobati peradangan (karena mengandung zat anti inflamasi dan curcumin), seperti :   penyakit kanker dan tumor (kista, mium, amandel, ambient, kutil, kelenjar getah bening)<br />
# Dapat mengatasi nyeri lambung, nyeri haid, keputihan, asam urat, tekanan darah tinggi, jantung   koroner, dan diabetes</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html" title="kutil deket puting">kutil deket puting</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html" title="penyakit yang sering pada preschool">penyakit yang sering pada preschool</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html" title="rumah parenting mutiara hati">rumah parenting mutiara hati</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.126 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/mutiara-hati-preschool-kindergarten-mengadakan-gathering-with-parents-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabuk Musik untuk Ibu Hamil</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 23:50:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[musik klasik]]></category>
		<category><![CDATA[Ritmo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[IBU hamil disarankan mendengarkan musik klasik. Musik jenis itu diperkirakan ikut memacu kecerdasan si kecil. Ibu biasanya membawa MP3 player sekaligus headphone.
Untuk memudahkan ibu hamil, diciptakan sabuk sound system. Ibu tinggal memasangnya di sekeliling perut dan musik pun mengalun menuju rahim melalui empat speaker.
Desainer alat itu menyebutkan, janin menunjukkan reaksi mendengar mulai usia kehamilan 17 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 class=tepi align=left src="http://us.123rf.com/400wm/400/400/vnosokin/vnosokin0710/vnosokin071000011/1922634.jpg" alt="1922634 Sabuk Musik untuk Ibu Hamil"  title="Sabuk Musik untuk Ibu Hamil" />IBU hamil disarankan mendengarkan <strong>musik klasik</strong>. Musik jenis itu diperkirakan ikut memacu kecerdasan si kecil. Ibu biasanya membawa MP3 player sekaligus headphone.</p>
<p>Untuk memudahkan ibu hamil, diciptakan sabuk sound system. Ibu tinggal memasangnya di sekeliling perut dan musik pun mengalun menuju rahim melalui empat speaker.</p>
<p>Desainer alat itu menyebutkan, janin menunjukkan reaksi mendengar mulai usia kehamilan 17 minggu. Terbiasa mendengar musik akan memacu perkembangan intelektual dan kemampuan bermain musik.</p>
<p><img width=200 class=tepi src="http://earlychildcare.files.wordpress.com/2009/08/pregnancy-tips-4.jpg" alt="pregnancy tips 4 Sabuk Musik untuk Ibu Hamil"  title="Sabuk Musik untuk Ibu Hamil" /></p>
<p><strong>Ritmo</strong>, demikian nama alat itu, lahir berkat tangan dingin Oren Oz. &#8221;Ritmo merupakan buah frustrasi saya mendampingi istri yang sedang hamil,&#8221; ujar pria berusia 34 tahun tersebut. </p>
<p>Dia dan istrinya sulit menemukan posisi yang nyaman saat harus membawa-bawa speaker. &#8221;Tak mungkin istri saya bergerak bebas, sedangkan kedua tangannya sibuk mengatur posisi speaker,&#8221; ungkapnya. </p>
<p><em>sumber : JPNN</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="speaker untuk ibu hamil">speaker untuk ibu hamil</a> (3)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="sabuk ibu hamil">sabuk ibu hamil</a> (3)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="sabuk musik buat ibu hamil">sabuk musik buat ibu hamil</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="sabuk musik ibu hamil">sabuk musik ibu hamil</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="sabuk hamil">sabuk hamil</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="musik untuk kehamilan">musik untuk kehamilan</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="musik hamil">musik hamil</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="mp3 player ibu hamil">mp3 player ibu hamil</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="ibu hamil yang sedang mendengarkan musik">ibu hamil yang sedang mendengarkan musik</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html" title="ibu hamil yang mendengarkan musik">ibu hamil yang mendengarkan musik</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.757 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/sabuk-musik-untuk-ibu-hamil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curhat sebagai Ajang Kedekatan Orang Tua-Anak</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 01:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[curahan hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[Curhat alias curahan hati tidak melulu urusan orang dewasa. Anak-anak juga membutuhkan sarana untuk mengungkapkan isi hati tersebut. Harapannya, anak menjadi lebih terbuka dan orang tua memahami isi kepala sang buah hati. 
Tak kalah penting, curhat bisa menjadi ajang kedekatan dengan orang tua dan membuat si kecil menganggap orang tua sebagai significant other dalam kehidupannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi  src="http://yourchildyourdivorce.com/wordpress/wp-content/uploads/2009/04/children-and-divorce-counseling.jpg" alt="children and divorce counseling Curhat sebagai Ajang Kedekatan Orang Tua Anak"  title="Curhat sebagai Ajang Kedekatan Orang Tua Anak" />Curhat alias <strong>curahan hati</strong> tidak melulu urusan orang dewasa. Anak-anak juga membutuhkan sarana untuk mengungkapkan isi hati tersebut. Harapannya, anak menjadi lebih terbuka dan orang tua memahami isi kepala sang buah hati. </p>
<p>Tak kalah penting, curhat bisa menjadi ajang kedekatan dengan orang tua dan membuat si kecil menganggap orang tua sebagai significant other dalam kehidupannya. </p>
<p>Memang sudah banyak artikel yang menyatakan bahwa curhat merupakan media yang baik demi keharmonisan hubungan orang tua-anak. Tapi, tidak mudah mencapai ide tersebut. Berbagai keterbatasan, mulai anak yang tertutup sampai orang tua yang belum siap, menjadi kendala suksesnya curhat. </p>
<p>Menurut Upi Thaib SE, direktur utama sekolah kepribadian Natasa, curhat sebenarnya bisa dibiasakan. &#8220;Dimulai dari latihan kecil sampai meningkat. Jadi, anak bisa lebih percaya diri. Tidak hanya berani mengungkapkan isi hati kepada orang tua, anak lebih mudah bergaul dengan teman-teman,&#8221; ulasnya. </p>
<p>Kapan mulai berlatih curhat? &#8220;Sejak dini. Ketika anak mulai bisa berbicara, orang tua bisa memancing mereka untuk rajin bercerita,&#8221; terang Upi. Misalnya, membiasakan diri menceritakan kejadian saat ibu atau ayah bekerja serta rajin bertanya mengenai hal-hal yang dialami di sekolah. &#8220;Anak akan merasa bahwa bercerita adalah hal biasa. Akhirnya, mereka terbiasa mengungkapkan isi hati,&#8221; paparnya.</p>
<p>Sementara itu, anak yang lebih dewasa, misalnya sudah mencapai usia delapan tahun sampai ABG, memang lebih sulit membuka diri. Apalagi, anak terbiasa tertutup. &#8220;Memang lebih sulit terbuka dengan orang tua daripada orang lain. Misalnya teman. Dengan begitu, pihak ketiga dibutuhkan untuk masalah tersebut,&#8221; saran Upi.</p>
<p>Upi mengisahkan, tidak semua anak yang bersekolah di lembaganya memiliki kepribadian terbuka. &#8220;Ada sebagian yang keras kepala dan suka membantah serta pendiam,&#8221; tutur dia. </p>
<p>Pada anak-anak dengan karakter seperti itu, Upi biasanya menggunakan praktik bermain peran. &#8220;Biasanya, praktik dimulai dengan mengajak anak-anak bercerita tentang kelemahan dan kelebihan masing-masing. Anak-anak biasanya akan lebih santai karena ada teman lain yang buka rahasia juga,&#8221; ujar dia. </p>
<p>Setelah anak-anak mengetahui kekurangan masing-masing, guru memberikan jalan keluar. Selain itu, ada praktik langsung. Terdapat dua praktik yang ditekankan, yaitu praktik bicara dan kasus. &#8220;Anak-anak diharuskan berbicara di depan kelas,&#8221; imbuh mantan pemain bola basket tersebut. </p>
<p><em>sumber : JPNN</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html" title="MENGAPA ORANG TUA SEBAGAI TEMAN CURHAT">MENGAPA ORANG TUA SEBAGAI TEMAN CURHAT</a> (3)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html" title="curhat ajang kedekatan orang tua-anak">curhat ajang kedekatan orang tua-anak</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html" title="menciptakan kedekatan ortu anak">menciptakan kedekatan ortu anak</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html" title="upi thaib">upi thaib</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.329 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/curhat-sebagai-ajang-kedekatan-orang-tua-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsultasi : Toilet training, Ke Sekolah Pakai Diaper</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 23:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[
TANYA
Putra saya telah berusia tiga tahun. Tapi, sampai sekarang dia masih mengompol. Padahal, sebelum tidur dia sudah saya ajak buang air kecil. Memang, saat sekolah dia masih saya beri diaper. Sebab, saya khawatir dia tidak dapat atau tidak mau bicara kalau mau pipis. Pada usia berapa anak tidak mengompol lagi?
Bagaimana cara memberi tahu anak seusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align=left class=tepi width=200 src="http://2.bp.blogspot.com/_Ax18Bgz9IlA/SwdVA9JVHdI/AAAAAAAAAW0/3JNbdZMDa1A/s1600/potty-training-a-boy.jpg" alt="potty training a boy Konsultasi : Toilet training, Ke Sekolah Pakai Diaper"  title="Konsultasi : Toilet training, Ke Sekolah Pakai Diaper" /><br />
TANYA<br />
Putra saya telah berusia tiga tahun. Tapi, sampai sekarang dia masih mengompol. Padahal, sebelum tidur dia sudah saya ajak buang air kecil. Memang, saat sekolah dia masih saya beri diaper. Sebab, saya khawatir dia tidak dapat atau tidak mau bicara kalau mau pipis. Pada usia berapa anak tidak mengompol lagi?<br />
Bagaimana cara memberi tahu anak seusia dia agar bisa mandiri? </p>
<p>JAWAB<br />
<strong>Toilet training</strong> atau mengajari anak buang air besar atau kecil biasa dilakukan saat anak berusia 6-9 bulan. Anak dikondisikan dan dibiasakan buang air besar atau kecil secara rutin. Misalnya, beberapa jam setelah minum susu, anak buang air kecil. Demikian juga pup atau buang air besar.</p>
<p>Dari kebiasaan tersebut, akan terbentuk pola yang membuat anak merasa risi bila mengompol. Anak juga mulai mengerti tanda ingin buang air.</p>
<p>Kalau anak berusia di bawah lima tahun sesekali masih mengompol, itu wajar. Mungkin anak sedang tegang, cemas, takut, atau kedinginan. Bisa juga karena mimpi buruk.</p>
<p>Untuk membiasakan anak mau memberi isyarat bila hendak buang air, lebih baik pemakaian diaper dihentikan. Sebaiknya Ibu bekerja sama dengan guru kelas untuk membantu toilet training terhadap anak. Dengan demikian, anak akan lebih mudah mandiri.</p>
<p><em>sumber : JPNN</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="anak suka buang air besar di sekolahan">anak suka buang air besar di sekolahan</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="artikel toilet training">artikel toilet training</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="PEMAKAIAN DIAPERS TERHADAP KEBIASAAN MENGOMPOL">PEMAKAIAN DIAPERS TERHADAP KEBIASAAN MENGOMPOL</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="penyebab anak tidak mandiri dalam toilet training">penyebab anak tidak mandiri dalam toilet training</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="toilet training">toilet training</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="toilet training pada anak usia sekolah">toilet training pada anak usia sekolah</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html" title="usia berapa anak pakai training closet">usia berapa anak pakai training closet</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.184 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/konsultasi-toilet-training-ke-sekolah-pakai-diaper.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 01:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak jadi gemuk]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Kegemukan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kanak-kanak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pola makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Kegemukan kini sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Meski di Indonesia kegemukan belum jadi masalah nasional, namun tak sulit menemukan anak-anak yang kegemukan di sekitar kita. 
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity, bila dibandingkan dengan 20 tahun lalu, kini makin banyak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan yang kegemukan. Sebagian ahli menuding [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi  src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/10/13/1524597p.jpg" alt="1524597p Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan"  title="Orangtua Sebabkan Anak Kegemukan" />Kegemukan kini sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Meski di Indonesia kegemukan belum jadi masalah nasional, namun tak sulit menemukan anak-anak yang kegemukan di sekitar kita. </p>
<p>Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity, bila dibandingkan dengan 20 tahun lalu, kini makin banyak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan yang kegemukan. Sebagian ahli menuding para orangtua menjadi penyebab anak-anak itu kegemukan.</p>
<p>&#8220;Sedikit banyak orangtua berkontribusi menyebabkan epidemi kegemukan,&#8221; kata Dr Elsie Taveras, asisten profesor pediatrik dari Harvard Pilgrim Health Care dan Harvard Medical School. </p>
<p>Tentu saja tidak ada orangtua yang sengaja ingin membuat anaknya kegemukan. Namun, tanpa disadari kebiasaan orangtua dalam hal makanan menyebabkan anak jadi gemuk. </p>
<p>Menurut Taveras, anak yang terlanjur kegemukan pada masa kecilnya memiliki kecenderungan gemuk pada saat dia memasuki masa kanak-kanak. &#8220;Anak-anak yang berat badannya naik dengan pesat pada masa 6 bulan pertama, memiliki risiko obesitas lebih besar saat mereka berusia 3 tahun,&#8221; katanya. </p>
<p>Beberapa penelitian juga menyebutkan pola makan yang ditanamkan orangtua kepada anak-anaknya menyebabkan mereka jadi kegemukan. Profesor John Worobey, ketua departemen ilmu nutrisi dari Rugers University, AS, mengevaluasi kebiasaan para ibu dalam memberi makan anak-anaknya.</p>
<p>Worobey dan timnya mengamati 96 ibu dan memberi kuesioner pada mereka mengenai apa yang dilakukan para ibu saat anak mereka rewel dan mengamati bagaimana anak-anak tersebut diberi makan.</p>
<p>Para ibu yang memberi makan anaknya 8 kali dalam sehari dan juga kurang teliti membaca aturan pemberian makan yang terdapat dalam kemasan makanan, cenderung memiliki anak yang gemuk di usia 6-12 bulan. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam Journal of Nutrition Education and Behaviour.</p>
<p>Untuk mencegah obesitas, para orangtua diminta untuk menyajikan makanan yang terkontrol kandungan gizi dan porsinya. Selain itu, hilangkan kebiasaan menyuapi anak atau membiarkan anak makan sambil menonton televisi. </p>
<p>Orangtua sebaiknya mulai waspada bila anaknya tak suka banyak bergerak, suka mengemil makanan yang manis, berlemak dan berkalori tinggi. Sedangkan tanda-tanda pada badannya mulai menunjukkan adanya lipatan kulit pada paha, leher, dada, dan perut.</p>
<p>Yang tak kalah penting, mulai saat ini hilangkan anggapan anak gemuk itu lucu dan sehat. Karena kegemukan adalah masalah kesehatan.</p>
<p><em>sumber : KOMPAS</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html" title="kebiasaan mengemil anak sekolah">kebiasaan mengemil anak sekolah</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.707 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/orangtua-sebabkan-anak-kegemukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memisahkan Anak dari benda kesayangannya</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/memisahkan-anak-dari-benda-kesayangannya.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/memisahkan-anak-dari-benda-kesayangannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 01:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Baby Smile School]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Psikologi Unair]]></category>
		<category><![CDATA[Unair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Orang tua tidak perlu terlalu khawatir bila anak terbiasa membawa benda-benda kesayangan. Anak melakukan hal tersebut karena merasa aman dan nyaman bila membawa barang itu. 
&#8221;Anak terbiasa karena dibiasakan. Maksudnya, sejak kecil anak terbiasa bermain dan dekat dengan benda-benda tersebut. Itu yang membuat dia nyaman bila berada di dekat benda tersebut. Akhirnya, hal itu menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200  align=left class=tepi src="http://yourkidmatters.com/wp-content/uploads/2009/02/toys.jpg" alt="toys Memisahkan Anak dari benda kesayangannya"  title="Memisahkan Anak dari benda kesayangannya" />Orang tua tidak perlu terlalu khawatir bila anak terbiasa membawa benda-benda kesayangan. Anak melakukan hal tersebut karena merasa aman dan nyaman bila membawa barang itu. </p>
<p>&#8221;Anak terbiasa karena dibiasakan. Maksudnya, sejak kecil anak terbiasa bermain dan dekat dengan benda-benda tersebut. Itu yang membuat dia nyaman bila berada di dekat benda tersebut. Akhirnya, hal itu menjadi kebiasaan,&#8221; kata Maria Farida Kurniawati. </p>
<p>Selama masih masuk kategori usia anak, kebiasaan tersebut tidak perlu dirisaukan. Yang bermasalah, kebiasaan itu berlanjut hingga anak beranjak dewasa, bahkan setelah menikah. &#8221;Ada lho yang sudah menikah, tapi tetap ingin dekat dengan benda kesayangannya. Itu masalah. Kalau masih anak, tidak ada masalah kok,&#8221; tutur ketua Yayasan <strong>Baby Smile School</strong> tersebut. </p>
<p>Maria menyatakan, orang tua tidak perlu bersikap ekstrem dengan memisahkan anak dari benda-benda kesayangannya. Asal, benda kesayangan tersebut tidak membahayakan atau mengganggu. &#8220;Misalnya, bila anak terbiasa membawa guling, bantal, atau boneka, tidak terlalu urgent untuk segera memisahkan benda-benda itu dari anak,&#8221; terangnya. </p>
<p>Lain halnya bila benda kesayangan tersebut berupa dot (empeng). Menurut Maria, benda itu perlu segera dipisahkan dari anak. Sebab, empeng tidak baik bagi perkembangan fisik anak. &#8221;Empeng bisa berdampak pada bentuk gigi anak. Itu kan bisa mengganggu penampilan anak saat dewasa,&#8221; katanya. </p>
<p>Bisakah kebiasaan membawa benda kesayangan tersebut berhenti? Menurut Maria, bisa. Seiring bertambahnya usia dan rasa percaya diri anak, kebiasaan itu akan hilang sendiri. Makin dewasa, anak akan malu dan tak percaya diri bila terus membawa benda kesayangan tersebut. &#8221;Dengan catatan, orang tua juga membiasakan anak tak membawa benda kesayangannya itu,&#8221; paparnya. </p>
<p>Misalnya, bila benda kesayangan tersebut tidak dibawa saat pergi ke luar kota, orang tua harus bisa menenangkan anak yang mungkin menangis atau tidak bisa tidur. &#8221;Beri pengertian kepada anak bahwa dia tidak harus tidur dengan benda kesayangannya. Beri anak guling pengganti atau boneka lain,&#8221; ungkapnya. </p>
<p>Awalnya memang susah. Anak akan memberontak. Tapi, Maria menegaskan, anak terbiasa karena dibiasakan orang tua. Karena itu, orang tua sebaiknya pintar-pintar mengalihkan perhatian anak agar tidak teringat terus kepada benda kesayangannya. </p>
<p>Menurut dia, hal tersebut sama halnya dengan kasus anak yang tidak bisa makan bila tidak sambil menonton televisi. &#8221;Cari sela saat perhatian anak bisa dialihkan,&#8221; tuturnya. Bila orang tua telaten, lambat laun anak akan membiasakan diri dengan barang atau mainan baru. </p>
<p>Dosen <strong>Fakultas Psikologi Unair</strong> Hamidah menjelaskan perlunya orang tua menjaga kebersihan benda kesayangan anak. Salah satunya, rajin mencuci benda tersebut. Memang, ada kalanya anak menolak benda kesayangannya dicuci. &#8221;Beri pemahaman ke anak bahwa bila benda kesayangannya kotor, bisa menimbulkan penyakit,&#8221; katanya. </p>
<p><em>sumber : JPNN</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/memisahkan-anak-dari-benda-kesayangannya.html" title="alamat yayasan baby smile school">alamat yayasan baby smile school</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/memisahkan-anak-dari-benda-kesayangannya.html" title="profil yayasan mutiara hati">profil yayasan mutiara hati</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.144 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/memisahkan-anak-dari-benda-kesayangannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 00:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan toilet training (latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis.
Kemampuannya mengontrol keinginan buang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/24/1855219p.jpg" alt="1855219p Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet"  title="Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet" />Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan <strong>toilet training</strong> (<strong>latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air</strong>). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis.</p>
<p>Kemampuannya mengontrol keinginan buang air pun cukup baik. Sayangnya, pada malam hari, si kecil masih mau memakai diapers. Mungkin karena minumnya banyak, dan selain itu Anda juga tidak ingin repot bangun tengah malam untuk menggotong si kecil ke kamar mandi. Gagallah toilet training yang Anda terapkan.</p>
<p>Mungkin, banyak ibu lain yang memiliki keluhan sama seputar kegagalan mereka menerapkan toilet training. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut penjelasannya:</p>
<p><strong>1. Terlalu awal memulai</strong><br />
Idealnya, toilet training dimulai ketika anak telah memasuki usia 2 tahun. Bila Anda terburu-buru memulai sebelum waktunya, maka boleh jadi kegagalan yang didapat. Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama dan berat sekali saat harus melaksanakan program tersebut. Anda perlu mengamati tanda-tanda kesiapannya, baik secara fisik, kognitif, maupun perilaku. Tanda-tanda tersebut biasanya sudah terlihat ketika anak memasuki usia 18 bulan sampai 2 tahun. Bahkan, sebagian ada yang baru menunjukkan tanda-tanda ketika memasuki usia 4 tahun. Patut diingat, anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda, tidak bisa disamaratakan. Jadi, jangan kecewa bila mendapati keponakan, anak teman atau tetangga dapat lebih awal memiliki kemampuan mengontrol buang air dibandingkan anak sendiri.</p>
<p>Sedikitnya, untuk menerapkan toilet training dibutuhkan waktu 3 bulan. Dituntut kesabaran dan sportivitas bila Anda gagal menerapkan dalam waktu di atas itu. Ini dapat dijadikan pertanda bahwa anak Anda belum siap. Tunggulah beberapa minggu dan mulailah untuk mencoba kembali.</p>
<p><strong>2. Memulai di waktu yang tidak tepat</strong><br />
Hindari memulai toilet training pada saat yang tidak tepat, seperti seminggu sebelum kelahiran adik bayi, baru ganti pengasuh, pindah rumah, atau hal-hal yang berkaitan dengan rutinitas anak. Prasekolah biasanya memiliki rutinitas tertentu dalam kesehariannya. Ketika terjadi perubahan, maka si prasekolah butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru tersebut. Untuk itu, hindari melakukan toilet training pada waktu-waktu tersebut. Tunggulah sampai anak dapat beradaptasi sebelum toilet training dimulai. </p>
<p><strong>3. Jangan pernah memaksa</strong><br />
Ketika si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan dan tertarik untuk memulai toilet training, jangan paksa ia untuk segera melaksanakan secepat mungkin. Bisa-bisa si anak malah mengalami stres yang ditandai dengan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Untuk itu, biarkan si kecil mengikuti iramanya, dan menjalani program toilet training setahap demi setahap. Tindakan paling bijaksana adalah tetap memberikan motivasi. Namun, ketika anak mogok, jangan sekali-sekali dipaksakan.</p>
<p><strong>4. Hindari sekadar ikut-ikutan</strong><br />
Jangan terpengaruh cerita kenalan atau saudara tentang keberhasilan  program toilet training yang diterapkan pada anaknya. Setiap anak adalah unik. Tidak mungkin menyamaratakan perkembangan semua anak sehingga memukul rata usia tepat melakukan toilet training. Langkah paling bijaksana adalah menunggu kesiapan anak. Sampaikan saja kepada kenalan, teman, atau saudara, “Kami telah memiliki rencana sendiri tentang program toilet training.”</p>
<p><strong>5. Hindari memberikan hukuman</strong><br />
Jangan sekali-kali memberikan hukuman kepada si <strong>prasekolah</strong> ketika gagal melakukan toilet training. Bisa jadi hukuman yang diberikan terasa memberatkan dan membuatnya trauma. Akibatnya, anak tidak mau memulai kembali toilet training karena teringat akan hukuman yang diberikan. Harus diingat, setiap anak berbeda sehingga dituntut kesabaran dan kecermatan <strong>orangtua</strong>.</p>
<p><strong>6. Tidak konsisten</strong><br />
Ketika memutuskan untuk melaksanakan toilet training hendaknya orangtua mampu bersikap konsisten. Laksanakan latihan itu saat siang dan malam hari. Memang, tidak bisa langsung serentak, tapi diawali dengan kesuksesan melaksanakan di siang hari, lalu dilanjutkan pada malam hari. Dituntut ketegasan dan kerelaan orangtua untuk membangunkan anak untuk BAK di kamar mandi, atau sekadar menggunakan potty training di kamar tidur.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="toilet training anak autis">toilet training anak autis</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="toilet training-autis">toilet training-autis</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.715 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kecil Tidak Berani Tampil</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 00:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[potensi anak]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater anak]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/06/1649176p.jpg" alt="1649176p Si Kecil Tidak Berani Tampil"  title="Si Kecil Tidak Berani Tampil" />Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan tawaran untuk didampingi oleh temannya pun ditolak. Alhasil, kesempatan itu pun terlewati.</p>
<p>Memang tidak semua anak memiliki keberanian untuk tampil di panggung. Tapi, menurut Rahmi Dahnan, Psi., psikolog dari Kita dan Buah Hati, kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat diterima. Sebab pada sebagian orang baik pemalu maupun tidak, beberapa situasi akan membuatnya mengalami rasa malu. Misal, ketika bertemu dengan orang yang baru saja dikenal, tampil di depan orang banyak, atau saat menghadapi situasi yang baru (seperti, sekolah baru, pindah rumah baru, kantor baru). Jadi jika ada di antara anak <strong>prasekolah</strong> yang merasa malu untuk tampil di panggung atau dalam acara sekolah, sesungguhnya masih tergolong wajar.</p>
<p><strong>Malu vs. percaya diri</strong><br />
Ketika si prasekolah tidak berani tampil di panggung atau acara terbuka lainnya di hadapan orang banyak, umumnya ada dua penyebabnya. Pertama, si prasekolah kurang memiliki rasa percaya diri. Kedua, memang anak tersebut memilki sifat pemalu.</p>
<p>Untuk membedakan antara anak yang tak berani tampil karena memiliki sifat pemalu atau kurang percaya diri, tentunya dituntut kepekaan orangtua. Cara pengamatannya cukup sederhana. Untuk anak yang kurang percaya diri umumnya <strong>sifat pemalu</strong> itu tidak menetap. Maksudnya, anak hanya tidak berani tampil pada kesempatan tertentu saja. Misal, ketika kurang persiapan atau penontonnya terlalu banyak.</p>
<p>Sedangkan untuk anak yang memang memiliki watak atau sifat pemalu, bila diamati maka watak atau sifat itu akan menetap. Jadi si anak dalam berbagai kesempatan akan selalu menarik diri karena malu. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan rumah sendiri atau bahkan di lingkungan keluarga. Menurut Swallow, seorang pakar <strong>psikiater anak</strong>, ada 10 hal yang biasanya dilakukan atau dirasakan anak pemalu. Di antaranya, menghindari kontak mata, memperlihatkan perilaku mengamuk (temper tantrum) untuk melepaskan kecemasannya, tidak banyak bicara, tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, tidak mau meminta pertolongan atau bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya, menggunakan alasan sakit agar tak berhubungan dengan orang lain (misalnya agar tidak pergi ke sekolah), bahkan merasa tidak ada yang menyukainya.</p>
<p><strong>Bila kurang percaya diri</strong><br />
Anak yang tidak berani tampil karena kurang memiliki rasa percaya diri, umumnya dapat diatasi. Dengan memberikan stimulasi yang tepat dan rutin, niscaya anak dapat mengatasi rasa percaya dirinya. Untuk itu menjadi tugas orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri si anak. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:<br />
*Lakukan persiapan sebelum acara dimulai. Berikan penjelasan suasana acara yang akan diikuti. Tak ketinggalan, tahapan atau langkah yang harus dilakukan pada acara tersebut. Bila perlu, ajak anak untuk tiba di lokasi 10 – 15 menit sebelum acara dimulai, sehingga si prasekolah dapat memperoleh gambaran suasana acaranya. Ini akan membantu si prasekolah dalam menyesuaikan diri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.<br />
* Bila perlu berikan contoh. <strong>Anak prasekolah</strong> mempelajari sesuatu dengan meniru atau mencontoh dari lingkungannya. Untuk itu, orangtua pun hendaknya dapat memberikan contoh bersikap atau berperilaku di tengah keramaian. Misal, cara bertegur sapa dan bergabung dengan teman-teman dalam kelompok tersebut. Bila anak mau melakukan, berikan penghargaan. Misal, “Mama bangga lho…Ternyata adek berhasil bergabung dan mengobrol dengan asyik sama teman-temannya.”<br />
Atau, kalau ingin menumbuhkan keberanian anak ketika akan mengikuti lomba, sesekali orangtua hendaknya juga jadi peserta lomba dan ajaklah anak untuk mengamati gaya atau perilaku orangtuanya saat mengikuti lomba.<br />
* Berikan kesempatan pada anak untuk menyatakan pilihan atau keinginannya. Contoh, ketika memilih model busana, makanan atau potongan rambut. Menghargai pilihannya dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.</p>
<p><strong>Berikan stimulasi dengan dukungan dari lingkungan</strong><br />
Untuk penyebab yang kedua yakni pemalu, orangtua hendaknya bersikap lebih berhati-hati. Sebab ada penelitian yang menyatakan bahwa watak pemalu ini bersifat bawaan atau keturunan. Hal yang patut diwaspadai oleh orangtua bila sifat pemalu ini berubah menjadi masalah. Karena, bila dibiarkan sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan tidak berkembang optimal.</p>
<p>Ketika orangtua mengetahui anaknya pemalu dan menyebabkan si anak tidak memiliki keberanian untuk tampil, sebaiknya sikap yang ditunjukkan adalah menerima sifat pemalu tersebut apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Langkah selanjutnya, orangtua hendaknya juga mendorong anak untuk mengatasi rasa malunya, sehingga akan tumbuh rasa percaya dirinya.</p>
<p>Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sifat pemalu pada si prasekolah:<br />
1. Dorong anak untuk bergabung dengan klub atau aktivitas yang menarik minatnya. Mungkin musik, ilmu pengetahuan, apa saja sepanjang bidang yang diminati. Cara ini dapat menciptakan kesempatan-kesempatan agar terbentuk hubungan yang familiar dan nyaman dengan kelompok-kelompok yang lebih besar.</p>
<p>2. Tidak mengolok-olok atau membicarakan <strong>sifat pemalu anak</strong> di depannya. Pembicaraan seperti itu dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak diterima sebagaimana adanya.</p>
<p>3. Ketahui kesukaan dan <strong>potensi anak</strong>. Doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka menyanyi maka kembangkan hobinya. Bila perlu ikutkan dengan kursus atau latihan vokal agar kemampuannya semakin bertambah..</p>
<p>4. Mengajak anak berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara. Buatlah jadual berkunjung ke rumah teman, tetangga, kerabat, dan bermainlah di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada lokasi yang berbeda. Atau, ajaklah anak-anak tetangga atau teman-teman sekolahnya untuk bermain di rumah.</p>
<p>5. Bermain peran bersama anak. Misalnya, anak belum berani tampil di panggung, sekalipun didampingi temannya. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang ada pertunjukkan, anak akan tampil menari di atas panggung atau menari sambil didampingi temannya. Bermain peran dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura, di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.</p>
<p>6. Jadilah contoh buat anak. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri. Untuk itu, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku percaya diri.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="cara mengatasi anak kurang berani">cara mengatasi anak kurang berani</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="pengertian kelompok bermain menurut para ahli">pengertian kelompok bermain menurut para ahli</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="langkah berani tampil ke depan">langkah berani tampil ke depan</a> (2)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="belajar tampil percaya diri">belajar tampil percaya diri</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penelitian hiperaktif VS Pemalu">penelitian hiperaktif VS Pemalu</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="Penelitian cara mengatasi anak yang pemalu pada anak usia dini">Penelitian cara mengatasi anak yang pemalu pada anak usia dini</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="mutiara hati untuk si buah hati">mutiara hati untuk si buah hati</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="menghilangkan sifat pemalu">menghilangkan sifat pemalu</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="mengatasi anak tidak berani tampil di depan">mengatasi anak tidak berani tampil di depan</a> (1)</li><li><a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="dalam mengatasi anak disleksia di tk melalui bermain kartu baca">dalam mengatasi anak disleksia di tk melalui bermain kartu baca</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.764 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
