Curhat sebagai Ajang Kedekatan Orang Tua-Anak
Curhat alias curahan hati tidak melulu urusan orang dewasa. Anak-anak juga membutuhkan sarana untuk mengungkapkan isi hati tersebut. Harapannya, anak menjadi lebih terbuka dan orang tua memahami isi kepala sang buah hati.
Tak kalah penting, curhat bisa menjadi ajang kedekatan dengan orang tua dan membuat si kecil menganggap orang tua sebagai significant other dalam kehidupannya.
Memang sudah banyak artikel yang menyatakan bahwa curhat merupakan media yang baik demi keharmonisan hubungan orang tua-anak. Tapi, tidak mudah mencapai ide tersebut. Berbagai keterbatasan, mulai anak yang tertutup sampai orang tua yang belum siap, menjadi kendala suksesnya curhat.
Menurut Upi Thaib SE, direktur utama sekolah kepribadian Natasa, curhat sebenarnya bisa dibiasakan. “Dimulai dari latihan kecil sampai meningkat. Jadi, anak bisa lebih percaya diri. Tidak hanya berani mengungkapkan isi hati kepada orang tua, anak lebih mudah bergaul dengan teman-teman,” ulasnya.
Kapan mulai berlatih curhat? “Sejak dini. Ketika anak mulai bisa berbicara, orang tua bisa memancing mereka untuk rajin bercerita,” terang Upi. Misalnya, membiasakan diri menceritakan kejadian saat ibu atau ayah bekerja serta rajin bertanya mengenai hal-hal yang dialami di sekolah. “Anak akan merasa bahwa bercerita adalah hal biasa. Akhirnya, mereka terbiasa mengungkapkan isi hati,” paparnya.
Sementara itu, anak yang lebih dewasa, misalnya sudah mencapai usia delapan tahun sampai ABG, memang lebih sulit membuka diri. Apalagi, anak terbiasa tertutup. “Memang lebih sulit terbuka dengan orang tua daripada orang lain. Misalnya teman. Dengan begitu, pihak ketiga dibutuhkan untuk masalah tersebut,” saran Upi.
Upi mengisahkan, tidak semua anak yang bersekolah di lembaganya memiliki kepribadian terbuka. “Ada sebagian yang keras kepala dan suka membantah serta pendiam,” tutur dia.
Pada anak-anak dengan karakter seperti itu, Upi biasanya menggunakan praktik bermain peran. “Biasanya, praktik dimulai dengan mengajak anak-anak bercerita tentang kelemahan dan kelebihan masing-masing. Anak-anak biasanya akan lebih santai karena ada teman lain yang buka rahasia juga,” ujar dia.
Setelah anak-anak mengetahui kekurangan masing-masing, guru memberikan jalan keluar. Selain itu, ada praktik langsung. Terdapat dua praktik yang ditekankan, yaitu praktik bicara dan kasus. “Anak-anak diharuskan berbicara di depan kelas,” imbuh mantan pemain bola basket tersebut.
sumber : JPNN