<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Hati &#187; Tips</title>
	<atom:link href="http://www.mutiara-hati.com/category/tips/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mutiara-hati.com</link>
	<description>a different touch to be smart</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 12:48:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 23:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Menghormati Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Berani]]></category>
		<category><![CDATA[Great Imitator]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[menghormati anak]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Takut]]></category>
		<category><![CDATA[Toko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki anak yang berbakti, santun dan menghormati yang lebih tua adalah dambaan setiap orang tua. Sedih rasanya sebagai orang tua, apabila mengetahui anaknya tidak berbakti kepada Anda. Simak tips berikut ini agar anak lebih dapat menghormati Anda : 1. Perlakukan dan hormati anak seperti anda menghormati orang dewasa Tidak jarang orang tua yang luput dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://images.detik.com/content/2010/07/03/857/86533105.jpg" alt="86533105 Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua "  title="Cara Mengajarkan Anak Menghormati Orang Tua " /><br />
Memiliki anak yang berbakti, santun dan menghormati yang lebih tua adalah dambaan setiap orang tua. Sedih rasanya sebagai orang tua, apabila mengetahui anaknya tidak berbakti kepada Anda. Simak tips berikut ini agar anak lebih dapat menghormati Anda :</p>
<p><strong>1. Perlakukan dan hormati anak seperti anda menghormati orang dewasa</strong><br />
Tidak jarang orang tua yang luput dari menghormati anak-anaknya, namun mereka malah mengharuskan anak-anaknya menghormati orang yang lebih tua. Ingat, anak juga manusia yang mempunyai perasaan dan dapat mencontoh apa yang sering ia lihat dan rasakan. Biasakanlah untuk menghormati anak agar ia tidak luput dari rasa menghormati siapapun menjadi anak yang berbudi pekerti baik.</p>
<p><strong>2. Bersikap tegas dan dapat dipercaya</strong><br />
Tegaslah dengan apa yang Anda ucapkan. Jika Anda melarang atau meminta anak melakukan sesuatu beri ia alasan yang benar serta beri ia ketegasan.</p>
<p><strong>3. Bersikaplah terus terang kepada anak</strong><br />
Katakan pada anak Anda sesuatu yang semestinya mereka ketahui, beri ia penjelasan mengenai sesuatu. Jika anak menanyakan satu hal dan Anda tidak mengetahui jawabannya, ada baiknya Anda mengatakan hal yang sebenarnya dan mengajak anak mencari tahu jawabannya bersama-sama. Sikap ini akan lebih dihargai anak ketimbang Anda pura-pura tahu.</p>
<p><strong>4. Jadilah orangtua yang konsisten baik dalam bersikap maupun dalam berkata-kata</strong><br />
Apabila orangtua menetapkan aturan A kepada anak maka sedapat mungkin orangtua harus tetap konsisten dengan peraturan tersebut, yaitu A. Misalnya, ketika orangtua menekankan kepada anak supaya tidak pernah mengambil barang milik orang lain sebelum meminta izin dari pemiliknya, maka janganlah sekali-kali membiarkan atau bahkan menyuruh anak memakan makanan di toko yang belum dibayar.</p>
<p><strong>5. Janganlah berdusta kepada anak atau memperdayainya</strong><br />
Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat mendorong anak untuk tidak menghargai orangtua beserta aturannya.</p>
<p><strong>6. Berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan terhadap anak</strong><br />
Jangan takut meminta maaf atas kesalahan yang Anda lakukan, karena dengan demikian, anak akan menghargai sikap Anda serta mencontoh perilaku ini jika ia melakukan kesalahan.</p>
<p><strong>7. Jangan takut mengungkapkan kasih sayang</strong><br />
Anak yang tumbuh dengan ekspresi kasih sayang orangtua akan memiliki sikap yang ekspresif dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Hormatilah gagasannya akan sesuatu, seperti kritis dengan lingkungan sekitar, dan sikapnya dalam menghormati sesama.</p>
<p><strong>8. Hormati hak anak</strong><br />
Anak berhak mendapatkan uang jajan maka berikanlah, berikan juga kebebasan untuk berbicara dan berekspresi, tentu kebebasannya jangan sampai keluar dari koridor yang diharapkan. Dengan cara seperti ini anak akan terbiasa untuk menghargai dan menghormati kebebasan milik orang lain.</p>
<p><strong>9. Jadilah orang tua yang menghormati orang lain</strong><br />
Anak adalah peniru ulung atau &#8216;Great Imitator&#8217;, pada umumnya anak akan meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya, bila Anda menghormati orang lain tentu anak pun akan belajar dan meniru dari kebiasaan Anda. Oleh karenanya, mulailah berikan contoh yang baik dan perlakukan anak-anak sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Selamat mendidik anak, semoga anak Anda menjadi anak sesuai yang dicita-citakan.</p>
<p><em>sumber wolipop</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara mengambil hati orang tua">cara mengambil hati orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="bagaimana cara mengajarkan anak belajar">bagaimana cara mengajarkan anak belajar</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="TIPS MENGAJARI ANAK BELAJAR OLEH ORANG TUA">TIPS MENGAJARI ANAK BELAJAR OLEH ORANG TUA</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="tips cara mengajarkan anak baca">tips cara mengajarkan anak baca</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="menghormati">menghormati</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="mengajarkan anak berbagi">mengajarkan anak berbagi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="makalah memiliki anak cerdas TK adalah dambaan orang tua">makalah memiliki anak cerdas TK adalah dambaan orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara menghargai orang yang lebih tua">cara menghargai orang yang lebih tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara mengajarkan PAUD">cara mengajarkan PAUD</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html" title="cara anak menghargai jasa orang tua">cara anak menghargai jasa orang tua</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.887 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/cara-mengajarkan-anak-menghormati-orang-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi Cerdas Sejak Dalam Kandungan</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 00:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi Cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[bayi lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Brainfood]]></category>
		<category><![CDATA[Gemuk]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Nutrisi Dan Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Otak]]></category>
		<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tak ingin punya bayi cerdas, lucu dan menggemaskan seperti di iklan-iklan televisi? Oh ya, Anda tentu ingin memiliki bayi seperti model-model kecil itu. Bukan suatu hal yang mustahil untuk memiliki bayi lucu, cerdas dan menggemaskan. Toh kecerdasan itu harus dilatih, bukan datang dengan sendiri dan dibiarkan saja. Tetapi bagaimana jika ternyata si calon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 class=tepi align=left src="http://lesungpipit.files.wordpress.com/2009/12/smart-baby1-main_full.jpg" alt="smart baby1 main full Bayi Cerdas Sejak Dalam Kandungan"  title="Bayi Cerdas Sejak Dalam Kandungan" />Siapa yang tak ingin punya bayi cerdas, lucu dan menggemaskan seperti di iklan-iklan televisi? Oh ya, Anda tentu ingin memiliki bayi seperti model-model kecil itu. Bukan suatu hal yang mustahil untuk memiliki bayi lucu, cerdas dan menggemaskan. Toh kecerdasan itu harus dilatih, bukan datang dengan sendiri dan dibiarkan saja.</p>
<p>Tetapi bagaimana jika ternyata si calon bayi itu masih berusia 3 minggu atau satu bulan? Bagaimana melatih kecerdasan bayi yang bahkan belum lahir? Untuk itulah, Woman memberikan beberapa tips bagi Anda yang berencana memiliki bayi cerdas. Yuk, baca artikel ini selengkapnya.</p>
<p><strong>Tips 1: Nutrisi lengkap dan bergizi!</strong><br />
Jangan remehkan nutrisi dan gizi Anda saat Anda sedang hamil. Ada pelbagai brainfood yang bisa Anda susun sebagai menu sehat nan bergizi sekaligus sebagai asupan bagi otak si calon bayi. Tak perlu takut gemuk atau terlihat jelek. Sudah sewajarnya berat tubuh Anda naik beberapa kilo, karena Anda sedang mengemban tanggung jawab menyenangkan yang patut disyukuri. Jadi perhatikan dan cukup gizi serta nutrisi Anda.</p>
<p><strong>Tips 2: Ajak ia berbincang</strong><br />
Semuda apapun usia bayi yang ada di dalam kandungan Anda, ia sudah mengerti lho jika Anda mengajaknya berbicara. Untuk itulah terkadang bayi juga perasa dan dapat merasakan apa yang dialami oleh ibunya, entah saat itu ibunya sedang sedih atau bahagia. Ajak si bayi berbincang topik-topik menyenangkan sejak dini. Adalah benang perasaan yang ada di dalam diri Anda dan dia yang menyalurkan pesan komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal. Usap perut Anda sebagai pernyataan sayang dan perhatian. Anda tak akan pernah tahu bahwa sebenarnya Anda membangun sebuah pondasi kecerdasan dalam berkomunikasi dengannya.</p>
<p><strong>Tips 3: Ajak ia bermain</strong><br />
Belum dilahirkan kok sudah diajak bermain? Oh, siapa bilang ia tak bisa, bisa kok! Permainan tujuannya adalah membuat dia terhibur dan bahagia, untuk itu sebaiknya permainan ini dilakukan bersama suami agar terjalin kedekatan antara Anda, dia dan ayahnya.</p>
<p><strong>Tips 4: Musik klasik</strong><br />
Tentunya Anda sudah pernah mendengar dan bahkan mungkin mempraktekkannya. Ya, memang gubahan musik klasik dikenal dapat merangsang pertumbuhan otak dan meningkatkan kecerdasan bayi sejak dini. Irama yang teratur dan cenderung tenang membuat bayi nyaman, dengan demikian konsentrasi lebih mudah terbentuk.</p>
<p><strong>Tips 5: Membaca sejak dini</strong><br />
Ajarkan ia membaca sejak dini. Bacakan beberapa cerita pendek untuknya, dan jangan lupa, hayati juga cerita itu. Lakukan acara membaca ini secara rutin dan pilih bacaan menarik yang mengandung pengetahuan atau memuat saran moral.</p>
<p><strong>Tips 6: Touching time!</strong><br />
Sisihkan waktu 5 menit, Anda dan pasangan saling bergandengan tangan kemudian memberikan sentuhan lembut pada perut Anda agar dapat dirasakan si bayi. Khasiatnya? si bayi merasa perhatian dan kenyamanan diberikan untuknya, dan jalinan perasaan terpaut lebih erat. Hal ini juga dapat membuat si bayi saat dewasa kelak menjadi anak yang lebih penurut, dan dekat dengan keluarga.</p>
<p><em>sumber : metro tv</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="bayi cerdas sejak dalam kandungan">bayi cerdas sejak dalam kandungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="bayi cerdas">bayi cerdas</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="anak cerdas sejak dalam kandungan">anak cerdas sejak dalam kandungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="KANDUNGAN 6 BULAN">KANDUNGAN 6 BULAN</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="cara agar bayi cerdas dalam kandungan">cara agar bayi cerdas dalam kandungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="tips calon bayi supaya cerdas dan kreatif">tips calon bayi supaya cerdas dan kreatif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="belejar dari dalm kandungan">belejar dari dalm kandungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="rahasia bayi cerdas">rahasia bayi cerdas</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="bayi 4 bulan dalam kandungan">bayi 4 bulan dalam kandungan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html" title="tips bayi cerdas">tips bayi cerdas</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 5.6 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/bayi-cerdas-sejak-dalam-kandungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 00:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan toilet training (latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis. Kemampuannya mengontrol keinginan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/24/1855219p.jpg" alt="1855219p Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet"  title="Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet" />Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan <strong>toilet training</strong> (<strong>latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air</strong>). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis.</p>
<p>Kemampuannya mengontrol keinginan buang air pun cukup baik. Sayangnya, pada malam hari, si kecil masih mau memakai diapers. Mungkin karena minumnya banyak, dan selain itu Anda juga tidak ingin repot bangun tengah malam untuk menggotong si kecil ke kamar mandi. Gagallah toilet training yang Anda terapkan.</p>
<p>Mungkin, banyak ibu lain yang memiliki keluhan sama seputar kegagalan mereka menerapkan toilet training. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut penjelasannya:</p>
<p><strong>1. Terlalu awal memulai</strong><br />
Idealnya, toilet training dimulai ketika anak telah memasuki usia 2 tahun. Bila Anda terburu-buru memulai sebelum waktunya, maka boleh jadi kegagalan yang didapat. Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama dan berat sekali saat harus melaksanakan program tersebut. Anda perlu mengamati tanda-tanda kesiapannya, baik secara fisik, kognitif, maupun perilaku. Tanda-tanda tersebut biasanya sudah terlihat ketika anak memasuki usia 18 bulan sampai 2 tahun. Bahkan, sebagian ada yang baru menunjukkan tanda-tanda ketika memasuki usia 4 tahun. Patut diingat, anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda, tidak bisa disamaratakan. Jadi, jangan kecewa bila mendapati keponakan, anak teman atau tetangga dapat lebih awal memiliki kemampuan mengontrol buang air dibandingkan anak sendiri.</p>
<p>Sedikitnya, untuk menerapkan toilet training dibutuhkan waktu 3 bulan. Dituntut kesabaran dan sportivitas bila Anda gagal menerapkan dalam waktu di atas itu. Ini dapat dijadikan pertanda bahwa anak Anda belum siap. Tunggulah beberapa minggu dan mulailah untuk mencoba kembali.</p>
<p><strong>2. Memulai di waktu yang tidak tepat</strong><br />
Hindari memulai toilet training pada saat yang tidak tepat, seperti seminggu sebelum kelahiran adik bayi, baru ganti pengasuh, pindah rumah, atau hal-hal yang berkaitan dengan rutinitas anak. Prasekolah biasanya memiliki rutinitas tertentu dalam kesehariannya. Ketika terjadi perubahan, maka si prasekolah butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru tersebut. Untuk itu, hindari melakukan toilet training pada waktu-waktu tersebut. Tunggulah sampai anak dapat beradaptasi sebelum toilet training dimulai. </p>
<p><strong>3. Jangan pernah memaksa</strong><br />
Ketika si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan dan tertarik untuk memulai toilet training, jangan paksa ia untuk segera melaksanakan secepat mungkin. Bisa-bisa si anak malah mengalami stres yang ditandai dengan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Untuk itu, biarkan si kecil mengikuti iramanya, dan menjalani program toilet training setahap demi setahap. Tindakan paling bijaksana adalah tetap memberikan motivasi. Namun, ketika anak mogok, jangan sekali-sekali dipaksakan.</p>
<p><strong>4. Hindari sekadar ikut-ikutan</strong><br />
Jangan terpengaruh cerita kenalan atau saudara tentang keberhasilan  program toilet training yang diterapkan pada anaknya. Setiap anak adalah unik. Tidak mungkin menyamaratakan perkembangan semua anak sehingga memukul rata usia tepat melakukan toilet training. Langkah paling bijaksana adalah menunggu kesiapan anak. Sampaikan saja kepada kenalan, teman, atau saudara, “Kami telah memiliki rencana sendiri tentang program toilet training.”</p>
<p><strong>5. Hindari memberikan hukuman</strong><br />
Jangan sekali-kali memberikan hukuman kepada si <strong>prasekolah</strong> ketika gagal melakukan toilet training. Bisa jadi hukuman yang diberikan terasa memberatkan dan membuatnya trauma. Akibatnya, anak tidak mau memulai kembali toilet training karena teringat akan hukuman yang diberikan. Harus diingat, setiap anak berbeda sehingga dituntut kesabaran dan kecermatan <strong>orangtua</strong>.</p>
<p><strong>6. Tidak konsisten</strong><br />
Ketika memutuskan untuk melaksanakan toilet training hendaknya orangtua mampu bersikap konsisten. Laksanakan latihan itu saat siang dan malam hari. Memang, tidak bisa langsung serentak, tapi diawali dengan kesuksesan melaksanakan di siang hari, lalu dilanjutkan pada malam hari. Dituntut ketegasan dan kerelaan orangtua untuk membangunkan anak untuk BAK di kamar mandi, atau sekadar menggunakan potty training di kamar tidur.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="pipis di toilet">pipis di toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="cara mengajarkan toileting pada balita">cara mengajarkan toileting pada balita</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="anak belajar pipis di kamar mandi">anak belajar pipis di kamar mandi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kapan bayi mulai belajar pipis ke wc">kapan bayi mulai belajar pipis ke wc</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kapan saatnya anak belajar ke toilet">kapan saatnya anak belajar ke toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="kegagalan toilet training">kegagalan toilet training</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="mengapa di sekolah butuh toilet">mengapa di sekolah butuh toilet</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="mengarahkan anak buang air besar di kamar mandi">mengarahkan anak buang air besar di kamar mandi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="saat yang tepat untuk potty training malam hari">saat yang tepat untuk potty training malam hari</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html" title="tip belajar anak usia 2 tahun">tip belajar anak usia 2 tahun</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 10.024 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kecil Tidak Berani Tampil</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 00:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[potensi anak]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater anak]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu]]></category>
		<category><![CDATA[sifat pemalu anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/06/1649176p.jpg" alt="1649176p Si Kecil Tidak Berani Tampil"  title="Si Kecil Tidak Berani Tampil" />Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan tawaran untuk didampingi oleh temannya pun ditolak. Alhasil, kesempatan itu pun terlewati.</p>
<p>Memang tidak semua anak memiliki keberanian untuk tampil di panggung. Tapi, menurut Rahmi Dahnan, Psi., psikolog dari Kita dan Buah Hati, kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat diterima. Sebab pada sebagian orang baik pemalu maupun tidak, beberapa situasi akan membuatnya mengalami rasa malu. Misal, ketika bertemu dengan orang yang baru saja dikenal, tampil di depan orang banyak, atau saat menghadapi situasi yang baru (seperti, sekolah baru, pindah rumah baru, kantor baru). Jadi jika ada di antara anak <strong>prasekolah</strong> yang merasa malu untuk tampil di panggung atau dalam acara sekolah, sesungguhnya masih tergolong wajar.</p>
<p><strong>Malu vs. percaya diri</strong><br />
Ketika si prasekolah tidak berani tampil di panggung atau acara terbuka lainnya di hadapan orang banyak, umumnya ada dua penyebabnya. Pertama, si prasekolah kurang memiliki rasa percaya diri. Kedua, memang anak tersebut memilki sifat pemalu.</p>
<p>Untuk membedakan antara anak yang tak berani tampil karena memiliki sifat pemalu atau kurang percaya diri, tentunya dituntut kepekaan orangtua. Cara pengamatannya cukup sederhana. Untuk anak yang kurang percaya diri umumnya <strong>sifat pemalu</strong> itu tidak menetap. Maksudnya, anak hanya tidak berani tampil pada kesempatan tertentu saja. Misal, ketika kurang persiapan atau penontonnya terlalu banyak.</p>
<p>Sedangkan untuk anak yang memang memiliki watak atau sifat pemalu, bila diamati maka watak atau sifat itu akan menetap. Jadi si anak dalam berbagai kesempatan akan selalu menarik diri karena malu. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan rumah sendiri atau bahkan di lingkungan keluarga. Menurut Swallow, seorang pakar <strong>psikiater anak</strong>, ada 10 hal yang biasanya dilakukan atau dirasakan anak pemalu. Di antaranya, menghindari kontak mata, memperlihatkan perilaku mengamuk (temper tantrum) untuk melepaskan kecemasannya, tidak banyak bicara, tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, tidak mau meminta pertolongan atau bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya, menggunakan alasan sakit agar tak berhubungan dengan orang lain (misalnya agar tidak pergi ke sekolah), bahkan merasa tidak ada yang menyukainya.</p>
<p><strong>Bila kurang percaya diri</strong><br />
Anak yang tidak berani tampil karena kurang memiliki rasa percaya diri, umumnya dapat diatasi. Dengan memberikan stimulasi yang tepat dan rutin, niscaya anak dapat mengatasi rasa percaya dirinya. Untuk itu menjadi tugas orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri si anak. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:<br />
*Lakukan persiapan sebelum acara dimulai. Berikan penjelasan suasana acara yang akan diikuti. Tak ketinggalan, tahapan atau langkah yang harus dilakukan pada acara tersebut. Bila perlu, ajak anak untuk tiba di lokasi 10 – 15 menit sebelum acara dimulai, sehingga si prasekolah dapat memperoleh gambaran suasana acaranya. Ini akan membantu si prasekolah dalam menyesuaikan diri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.<br />
* Bila perlu berikan contoh. <strong>Anak prasekolah</strong> mempelajari sesuatu dengan meniru atau mencontoh dari lingkungannya. Untuk itu, orangtua pun hendaknya dapat memberikan contoh bersikap atau berperilaku di tengah keramaian. Misal, cara bertegur sapa dan bergabung dengan teman-teman dalam kelompok tersebut. Bila anak mau melakukan, berikan penghargaan. Misal, “Mama bangga lho…Ternyata adek berhasil bergabung dan mengobrol dengan asyik sama teman-temannya.”<br />
Atau, kalau ingin menumbuhkan keberanian anak ketika akan mengikuti lomba, sesekali orangtua hendaknya juga jadi peserta lomba dan ajaklah anak untuk mengamati gaya atau perilaku orangtuanya saat mengikuti lomba.<br />
* Berikan kesempatan pada anak untuk menyatakan pilihan atau keinginannya. Contoh, ketika memilih model busana, makanan atau potongan rambut. Menghargai pilihannya dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.</p>
<p><strong>Berikan stimulasi dengan dukungan dari lingkungan</strong><br />
Untuk penyebab yang kedua yakni pemalu, orangtua hendaknya bersikap lebih berhati-hati. Sebab ada penelitian yang menyatakan bahwa watak pemalu ini bersifat bawaan atau keturunan. Hal yang patut diwaspadai oleh orangtua bila sifat pemalu ini berubah menjadi masalah. Karena, bila dibiarkan sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan tidak berkembang optimal.</p>
<p>Ketika orangtua mengetahui anaknya pemalu dan menyebabkan si anak tidak memiliki keberanian untuk tampil, sebaiknya sikap yang ditunjukkan adalah menerima sifat pemalu tersebut apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Langkah selanjutnya, orangtua hendaknya juga mendorong anak untuk mengatasi rasa malunya, sehingga akan tumbuh rasa percaya dirinya.</p>
<p>Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sifat pemalu pada si prasekolah:<br />
1. Dorong anak untuk bergabung dengan klub atau aktivitas yang menarik minatnya. Mungkin musik, ilmu pengetahuan, apa saja sepanjang bidang yang diminati. Cara ini dapat menciptakan kesempatan-kesempatan agar terbentuk hubungan yang familiar dan nyaman dengan kelompok-kelompok yang lebih besar.</p>
<p>2. Tidak mengolok-olok atau membicarakan <strong>sifat pemalu anak</strong> di depannya. Pembicaraan seperti itu dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak diterima sebagaimana adanya.</p>
<p>3. Ketahui kesukaan dan <strong>potensi anak</strong>. Doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka menyanyi maka kembangkan hobinya. Bila perlu ikutkan dengan kursus atau latihan vokal agar kemampuannya semakin bertambah..</p>
<p>4. Mengajak anak berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara. Buatlah jadual berkunjung ke rumah teman, tetangga, kerabat, dan bermainlah di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada lokasi yang berbeda. Atau, ajaklah anak-anak tetangga atau teman-teman sekolahnya untuk bermain di rumah.</p>
<p>5. Bermain peran bersama anak. Misalnya, anak belum berani tampil di panggung, sekalipun didampingi temannya. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang ada pertunjukkan, anak akan tampil menari di atas panggung atau menari sambil didampingi temannya. Bermain peran dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura, di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.</p>
<p>6. Jadilah contoh buat anak. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri. Untuk itu, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku percaya diri.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab kurang percaya diri pada anak tk">penyebab kurang percaya diri pada anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="makalah mengatasi sifat pemalu pda anak tk">makalah mengatasi sifat pemalu pda anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="cache:OB-4l7jgpc4J:www mutiara-hati com/ www mutiara hati com">cache:OB-4l7jgpc4J:www mutiara-hati com/ www mutiara hati com</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="cara mengatasi murid yang malu-malu atau tidak berani tampil di depan kelas">cara mengatasi murid yang malu-malu atau tidak berani tampil di depan kelas</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="agar anak berani tampil">agar anak berani tampil</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="bagaimana membuat anak lebih berani tidak malu">bagaimana membuat anak lebih berani tidak malu</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="pengertian anak prasekolah">pengertian anak prasekolah</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="contoh kata -kata persembahan buat orang tua">contoh kata -kata persembahan buat orang tua</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab temper tantrum">penyebab temper tantrum</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html" title="penyebab temper tantrum pada toddler">penyebab temper tantrum pada toddler</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 8.998 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/si-kecil-tidak-berani-tampil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Mainan Sesuai Usia Anak</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 00:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[karakter anak]]></category>
		<category><![CDATA[kemampuan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[mainan anak]]></category>
		<category><![CDATA[mendorong tumbuh-kembang anak]]></category>
		<category><![CDATA[puzzle]]></category>
		<category><![CDATA[toko mainan]]></category>
		<category><![CDATA[ular tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Saat Anda memasuki toko mainan, Anda mungkin terpana melihat begitu banyaknya jenis mainan yang disediakan. Begitu banyak, hingga Anda mengurungkan niat untuk membeli mainan untuk anak Anda. Toh, si kecil juga tetap asyik meskipun &#8220;mainannya&#8221; hanya toples berisi permen yang berulangkali dituang dan dimasukkan kembali. Atau, serbet yang berulangkali diseretnya dengan kaki ke sana-kemari. Namun, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/11/2002348p.jpg" alt="2002348p Memilih Mainan Sesuai Usia Anak"  title="Memilih Mainan Sesuai Usia Anak" />Saat Anda memasuki <strong>toko mainan</strong>, Anda mungkin terpana melihat begitu banyaknya jenis mainan yang disediakan. Begitu banyak, hingga Anda mengurungkan niat untuk membeli mainan untuk anak Anda. Toh, si kecil juga tetap asyik meskipun &#8220;mainannya&#8221; hanya toples berisi permen yang berulangkali dituang dan dimasukkan kembali. Atau, serbet yang berulangkali diseretnya dengan kaki ke sana-kemari.</p>
<p>Namun, Anda perlu mengingat, mainan yang baik haruslah yang <strong>mendorong tumbuh-kembang anak</strong>. Mainan tersebut juga harus disesuaikan dengan <strong>karakter anak</strong>. Apa yang cocok untuk anak lain, belum tentu disukai anak Anda. Mainan tidak boleh terlalu sulit, karena akan membuatnya frustrasi. Jika terlalu mudah, akan membuatnya bosan. Kemudian, menurut Alvin Eden, M.D., profesor klinis di jurusan Pediatrics, Weil Medical College of Cornell University, New York, saat memilih <strong>mainan anak</strong>, Anda harus mempertimbangkan tingkat keamanannya. Pada dasarnya mainan tidak boleh memiliki sudut yang tajam, bagian-bagian yang mudah dilepas, tidak mudah patah atau pecah, berukuran cukup besar sehingga tidak dapat dimasukkan ke mulut dan ditelan.</p>
<p>Berikut adalah beberapa permainan sesuai usia anak, sesuai saran Eden:</p>
<p><strong>Usia 0-1 tahun</strong><br />
Pastikan mainan tidak mudah terbakar, tidak beracun, dan dapat dicuci. Boneka binatang sebaiknya merupakan satu bagian; bila ada tangan atau kaki juga tersambung dengan aman. Bagian wajah sebaiknya dilukis atau dibordir, sehingga tidak ada mata dari kancing yang bisa ditarik dan dilepas lalu ditelan. Mainan yang kecil dan ringan lebih mudah dipegang dan dipeluk oleh anak usia ini.</p>
<p>Mainan yang bergerak membantu mengembangkan <strong>kemampuan bayi</strong> untuk menaruh perhatian pada obyek. Bola yang mengeluarkan suara atau memiliki bagian-bagian yang bergerak di dalamnya memberikan stimulasi motorik, visual, dan pendengaran, serta membantu mengembangkan gerakan mata, merangkak, dan meningkatkan kemampuan motorik. Namun pastikan ia tidak dapat mengeluarkan bagian yang bergerak-gerak tersebut. Mainan yang bergemerincing juga akan menarik perhatian bayi melalui warna, suara, sentuhan, dan rasanya. Gelang-gelang yang didesain untuk merangsang pertumbuhan gigi boleh diberikan, asal tidak mudah patah, tidak ada bagian yang longgar, dan dapat dicuci.  </p>
<p><strong>Usia 12-18 bulan</strong><br />
Pada tahap ini, bayi sudah bisa berdiri dan duduk, namun ada yang belum bisa berjalan sendiri. Mereka senang memindah-mindahkan obyek, seperti mainan yang bisa ditarik-ulur dan menimbulkan bunyi, mainan yang bisa dibuka-tutup, memencet tombol, dan main ciluk-ba. Bayi juga senang bermain menyusun kotak, namun pilih kotak yang ditutup dengan kain yang lembut dan ringan. Tak perlu menyediakan terlalu banyak kotak, karena akan membingungkan anak.</p>
<p>Bayi senang dengan mainan yang dapat ditumpangi seperti mobil-mobilan, namun mainan ini berbahaya untuk anak yang belum bisa berjalan. Pastikan anak dapat naik-turun mainan dengan mudah, dan dapat melakukan manuver sendiri. Mainan yang bisa ditarik-ulur juga baik untuk anak yang sudah bisa berjalan.</p>
<p><strong>Usia 18-24 bulan</strong><br />
Anak usia ini sudah mulai berbicara, dan tertarik dengan ukuran dan peletakan barang. Menyusun kotak berukuran besar akan menarik hatinya. Mulailah dengan satu set berukuran kecil, dan ganti dengan yang berukuran besar begitu minat anak berkembang. Kotak yang diberi wadah membuatnya asyik memasukkan dan mengeluarkan.</p>
<p>Mainan telepon memberikan anak terlibat dalam kegiatan orang dewasa, dan anak suka dengan suaranya. Bentuknya yang menyerupai tokoh kartun membantu anak tetap tertarik. Mainan mengenal bentuk mendorong anak untuk menggabung-gabungkan potongannya. Hal ini membantu mengembangkan koordinasi mata dan tangan, kemampuan mencari pasangannya, dan mengenali bentuk. Namun potongan mainan sebaiknya tidak terlalu banyak.</p>
<p>Mainan lain yang cukup baik antara lain bus dengan penumpang yang bisa dikeluarkan, hand puppets, atau boneka. Bermain dengan boneka bayi dan trolley-nya membantu anak mengembangkan imajinasi, bermain peran, dan membangun kemampuan sosial, selain membantu meningkatkan kemampuan motoriknya.</p>
<p><strong>Usia 2-3 tahun</strong><br />
Anak sudah semakin kreatif. Mereka menyukai kegiatan orang dewasa, dan mainan yang realistis akan menstimulasi otak mereka. Kelompok usia ini juga menggemari mainan yang membutuhkan gerak dan ketangkasan.</p>
<p>Mainan atau boneka yang bisa berbicara, atau mainan instrumen musik juga populer. Semakin banyak fitur yang ditampilkan, semakin anak suka, selama masih mudah digunakan. Mobil-mobilan seperti truk baik untuk kegiatan di dalam atau luar rumah, begitu juga sandbox lengkap dengan ember dan sekop untuk menggali atau mengeruk pasir. Kereta api juga menyenangkan, karena anak bisa belajar meletakkan dan memungut kereta dari relnya.</p>
<p>Anak juga sudah bisa bermain puzzle yang sederhana. Permainan ini menguatkan koordinasi mata dan tangan, kemampuan mencocokkan, dan mengenali bentuk, serta akan membuatnya terus penasaran, sejauh sesuai dengan tingkat kemampuannya. Potongannya sebaiknya tidak terlalu kecil, supaya tidak mudah dimasukkan ke mulutnya juga. Mainan yang menunjukkan profesi, seperti perangkat kedokteran, atau memasak, juga mendorong kreativitasnya.</p>
<p><strong>Usia 3-5 tahun</strong><br />
Anak-anak usia ini mulai menikmati kegiatan menggambar, mencoret-coret, dan memberi warna. Memberikan kertas dan krayon juga akan mendorong kemampuannya menulis. Mencoret-coret akan meningkatkan imajinasi dan kreativitas, dan menjadi sarana yang baik untuk mengekspresikan emosinya.</p>
<p>Permainan yang menggunakan papan (board games) seperti <strong>ular tangga</strong> mempertajam kemampuan visualisasi dan memorinya, karena membutuhkan imajinasi atau perhitungan mental. Permainan lain yang bisa mulai diperkenalkan adalah buku cerita, mainan untuk membangun sesuatu, mengenakan pakaian pada boneka dan berbagai aksesorinya, rumah-rumahan, <strong>puzzle</strong> dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan, dan sepeda.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="kegiatan yang menstimulasi koordinasi anak">kegiatan yang menstimulasi koordinasi anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="program bermain anak usia 1 tahun">program bermain anak usia 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="jenis permainan menurut usia">jenis permainan menurut usia</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="jenis mainan anak usia 1 tahun">jenis mainan anak usia 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="mainan bayi umur 1 bulan">mainan bayi umur 1 bulan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="memilih mainan sesuai usia anak mutiara hati">memilih mainan sesuai usia anak mutiara hati</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="Jenis mainan bayi usia 6 bulan">Jenis mainan bayi usia 6 bulan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="memilih mainan anak berdasarkan usianya">memilih mainan anak berdasarkan usianya</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="mainan pada bayi usia 0-1 bln">mainan pada bayi usia 0-1 bln</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html" title="permainan anak sesuai umur">permainan anak sesuai umur</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 12.45 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/memilih-mainan-sesuai-usia-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Pendongeng yang Ekspresif</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 00:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa dongeng dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam mendidik anak. Namun, bagaimana cara mendongeng yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/27/0900576p.jpg" alt="0900576p Jadilah Pendongeng yang Ekspresif"  title="Jadilah Pendongeng yang Ekspresif" />Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa <strong>dongeng</strong> dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam <strong>mendidik anak</strong>.</p>
<p>Namun, bagaimana cara mendongeng yang benar agar pesan dapat tersampaikan dengan benar? Kak Kusomo yang dikenal sebagai raja dongeng membagi beberapa tips cara mendongeng yang baik:</p>
<p><strong>1. Pendongeng harus ekspresif</strong>. Untuk menarik perhatian anak, seorang pendongeng harus dapat berekspresi dan enerjik. &#8220;Kalau pendongeng lemas dan datar dalam mendongeng, mana ada anak yang mau mendengar,&#8221; ujar Kak Kusomo.</p>
<p>Menurutnya, dalam mendongeng harus ada perubahan intonasi, mimik wajah, dan gerakan tubuh. &#8220;Oleh karena itu, untuk menjadi pendongeng ekspresif, mimik wajah, intonasi, dan bahasa tubuh harus terus dilatih.&#8221;</p>
<p><strong>2. Banyak membaca</strong>. Menurut Kak Kusomo, seorang pendongeng harus mempunyai banyak cerita. Pasalnya, anak akan bosan jika terus-menerus mendengar cerita yang sama. &#8220;Perbanyaklah membaca cerita-cerita rakyat atau literatur lain. Dengan begitu, pendongeng juga dapat berimprovisasi dalam mendongeng,&#8221; tutur Kak Kusomo.</p>
<p><strong>3. Memilih cerita yang mempunyai pesan</strong>. Tidak semua cerita rakyat mempunyai pesan moral yang bagus bagi anak-anak. &#8220;Ada beberapa cerita rakyat yang tidak cocok untuk anak, misalnya tentang perang saudara dan lain-lain. Jadi pilihlah cerita-cerita yang pesan moral atau budayanya dapat ditiru anak,&#8221; lanjutnya.</p>
<p><strong>4. Sesuaikan dengan usia anak</strong>. Kak Kusomo menuturkan tiap-tiap tingkatan umur. Untuk umur di bawah 5 tahun, dongeng yang cocok adalah mengenai lingkungan, seperti cerita hewan atau tumbuhan. Pada umur 5-7 tahun, anak boleh mulai dikenalkan dengan cerita rakyat. Selanjutnya, anak pada umur 9-12 tahun cocok dengan cerita mengenai fiksi, seperti petualangan. Usia maksimal anak diberi dongeng adalah umur 12 tahun. Setelah itu anak perlu dirangsang dengan metode cerita bersama, seperti diskusi.  </p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="cara mendongeng yang baik">cara mendongeng yang baik</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="tips menjadi pendongeng">tips menjadi pendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="cara mendongeng">cara mendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="metode bercerita di tk">metode bercerita di tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="metode mendongeng">metode mendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="bagaimana cara mendongeng untuk anak hiperaktif">bagaimana cara mendongeng untuk anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="pendongeng">pendongeng</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="pendongeng anak">pendongeng anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="menulis ekspresif">menulis ekspresif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html" title="menjadi pendongeng yang baik">menjadi pendongeng yang baik</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 14.248 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/jadilah-pendongeng-yang-ekspresif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sarapan Berkualitas untuk Anak</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 00:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[bergizi]]></category>
		<category><![CDATA[gandum]]></category>
		<category><![CDATA[gizi anak]]></category>
		<category><![CDATA[kandungan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[menu sarapan]]></category>
		<category><![CDATA[oat]]></category>
		<category><![CDATA[Porsi sarapan]]></category>
		<category><![CDATA[Sarapan pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Susu]]></category>
		<category><![CDATA[zat gizi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Sarapan pagi sangat penting untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan selalu bergerak aktif. Sarapan yang sehat, tidak hanya mencukupi gizi anak tapi juga membuat otak belajar dan berkonsentrasi dengan baik. Untuk anak 6-12 tahun, menu sarapan idealnya terdiri atas padi-padian atau gandum utuh, buah-buahan atau sayuran, kacang-kacangan, susu atau produk hewani lainnya. Porsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width=200 align=left class=tepi src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/05/23/2355011p.jpg" alt="2355011p Sarapan Berkualitas untuk Anak"  title="Sarapan Berkualitas untuk Anak" /><strong>Sarapan pagi</strong> sangat penting untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan selalu bergerak aktif.  Sarapan yang sehat, tidak hanya mencukupi <strong>gizi anak</strong> tapi juga membuat otak belajar dan berkonsentrasi dengan baik.</p>
<p>Untuk anak 6-12 tahun, <strong>menu sarapan</strong> idealnya terdiri atas padi-padian atau gandum utuh, buah-buahan atau sayuran, kacang-kacangan, susu atau produk hewani lainnya. <strong>Porsi sarapan</strong> sebaiknya tidak terlalu banyak karena porsi besar akan mengganggu sistem pencernaannya. Kita bisa menambahkan makanan selingan pagi sehingga anak akan tercukupi energi sampai siang hari.</p>
<p>Sumber karbohidrat juga tidak harus nasi, kita bisa menggantinya dengan golongan serealia lain seperti <strong>gandum</strong> atau <strong>oat</strong>. Sereal adalah pilihan menu ideal  buat sarapan mengingat kelengkapan <strong>kandungan gizi</strong> maupun nilai kepraktisannya. Sereal terbuat dari bahan alami dan mengandung lebih banyak serat yang dilengkapi dengan ragam vitamin.  Dengan demikian, sereal akan mencukupi bukan saja kebutuhan energi, melainkan banyak <strong>zat gizi</strong> esensial. Memilih sereal  untuk sarapan berarti sudah memenuhi seperempat kecukupan kalori selain kecukupan sekian vitamin, dan serat.</p>
<p><strong>Tip menyiapkan sarapan sehat untuk anak:</strong><br />
1. Siapkan menu sarapan sehat dan <strong>bergizi</strong> seimbang.<br />
2. Pilih menu sarapan yang praktis dan  bervariasi dari berbagai jenis bahan makanan.<br />
3. Sarapan tidak harus nasi. Sereal, roti, kentang, dan mie bisa menjadi alternatif.<br />
4. <strong>Susu</strong> atau hasil olahannya seperti yogurt sangat dianjurkan.<br />
5. Bisa dilengkapi dengan buah segar atau yang diblender.<br />
6. Beri air minum yang cukup.<br />
7. Berikan pula kesempatan buat anak merencanakan dan mempersiapkan sarapannya.</p>
<p><em>sumber KOMPAS</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="menu sarapan anak 1 tahun">menu sarapan anak 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="sarapan anak 1 tahun">sarapan anak 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="menu sarapan untuk anak 1 tahun">menu sarapan untuk anak 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="menu sarapan buat anak tk">menu sarapan buat anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="sarapan anak tk">sarapan anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="sarapan untuk anak 1 tahun">sarapan untuk anak 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="menu sarapan anak TK">menu sarapan anak TK</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="menu sarapan bayi 12 bulan">menu sarapan bayi 12 bulan</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="sarapan untuk bayi di atas 1 tahun">sarapan untuk bayi di atas 1 tahun</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html" title="Menu sarapan anak 1tahun">Menu sarapan anak 1tahun</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 8.642 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/sarapan-berkualitas-untuk-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajari Anak Mengambar</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 23:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Mengambar]]></category>
		<category><![CDATA[mengajari anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajari Anak Mengambar]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah TK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[TANYA SAYA guru di sebuah sekolah TK di Gresik. Di kelas saya, terdapat beberapa anak yang sangat suka corat-coret gambar di kertas atau papan tulis. Bahkan kadang-kadang di dinding. Tampaknya, dia sangat menikmati aktivitas menggambar sehingga bila saya larang, anak-anak ngambek. Mohon penjelasan, apa yang harus saya lakukan untuk membimbing agar keinginan menggambar tersebut bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TANYA<br />
SAYA guru di sebuah sekolah TK di Gresik. Di kelas saya, terdapat beberapa anak yang sangat suka corat-coret gambar di kertas atau papan tulis. Bahkan kadang-kadang di dinding. Tampaknya, dia sangat menikmati aktivitas menggambar sehingga bila saya larang, anak-anak ngambek. Mohon penjelasan, apa yang harus saya lakukan untuk membimbing agar keinginan menggambar tersebut bisa tersalurkan dengan benar?</p>
<p>JAWAB<br />
Perlu diketahui, gambar anak bersifat unik. Artinya, tidak ada dua anak yang gambarnya persis sama. Namun, garis besar perkembangan gambar anak memiliki beberapa persamaan. Batas tiap tahap perkembangan tidak selalu tegas. Suatu tahap bisa sedikit lebih lambat atau kadang lebih cepat. Perkembangan gambar anak usia TK (usia 5- 6 tahun) memiliki ciri-ciri mementingkan bagian tertentu objek, perkembangan skema, seiring perkembangan integrasi indra, dan perkembangan konsep ruang &#038; waktu.</p>
<p>Bagi anak, gambar merupakan bahasa ungkap apa yang ingin diceritakan. Untuk itu, tidaklah salah pelajaran yang paling penting dan menyenangkan bagi anak kecil adalah menggambar. Menggambar, bagi anak, merupakan cara yang menyenangkan untuk belajar menyelesaikan suatu aktivitas, cara untuk duduk diam dan memusatkan perhatian, serta cara menciptakan sesuatu yang dihargai orang lain (apresiatif). Bagi anak yang banyak melakukan aktivitas menggambar, kemungkinan mempertahankan rasa percaya diri dalam kemampuan artisitiknya di kemudian hari lebih besar.</p>
<p>Pada usia 5-6 tahun, biasanya anak mulai membuat gambar sesuatu objek. Anak mulai tahu apa yang ingin mereka gambar dan bila merasa tidak bisa mewujudkannya, mereka akan merasa jengkel atau menyerah dan sayangnya banyak yang demikian. Berikut beberapa kiat yang bisa Ibu lakukan dalam membimbing aktivitas menggambar anak secara tepat.</p>
<p>Sediakan buku mewarnai dan buku menggambar dengan menghubungkan titik-titik yang membentuk sebuah gambar. Latihan menghubungkan gambar titik-titik itu akan melatih berkembangnya motorik halus dan kemampuan mengidentifikasi sebuah bentuk.</p>
<p>Dorong anak untuk meniru bentuk sederhana dengan cara membuat berbagai bentuk yang mengikuti lubang pada penggaris khusus, termasuk potongan teka-teki gambar, piring, balok mainan, atau berbagai bentuk kayu.</p>
<p>Letakkan uang logam di bawah kertas dan gunakan pensil lunak atau krayon untuk cetakan gambar uang logam. Cobalah juga membuat cetakan gambar dari kulit kayu, kartu, atau kertas dinding yang dicetak timbul.</p>
<p>Anjurkan kepada anak yang sudah lebih besar untuk meniru gambar sederhana, lalu diskusikan apa yang perlu dilakukan untuk membuat gambar tersebut lebih baik.</p>
<p>Perkenalkan anak dengan berbagai media gambar. Anak bisa menggambar bentuk sederhana dari krayon, lalu digabungkan dengan menempelkan foto, guntingan gambar mobil di jalan, kuda di lapangan, kapal di laut, dan sebagainya yang digunting dari majalah. Untuk lebih mewadahi kreativitas dan imajinasi anak, selalu berikan dorongan agar anak membuat &#8221;gambar bebas&#8221; di samping pelajaran yang terstruktur.</p>
<p>Dorong anak yang lebih besar untuk mengekspresikan bagaimana perasaan mereka dengan menggambar atau melukis. Misalnya, &#8220;Buat gambar mengenai betapa marah atau sedih hatimu.&#8221; Selamat mencoba.</p>
<p><em>sumber JPNN</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="mengambar">mengambar</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="cara menggambar anak tk">cara menggambar anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="mengajari anak menggambar">mengajari anak menggambar</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="teknik menggambar anak tk">teknik menggambar anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="gambar menghubungkan titik">gambar menghubungkan titik</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="gambar titik untuk anak kecil">gambar titik untuk anak kecil</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="cara menggambar mobil anak tk">cara menggambar mobil anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="menggambar bentuk untuk anak tk">menggambar bentuk untuk anak tk</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="cara mengajari anak ke wc">cara mengajari anak ke wc</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html" title="psikologi gambar anak tk">psikologi gambar anak tk</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 4.994 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/mengajari-anak-mengambar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeruk Nipis Atasi Serak</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 10:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[antioksidan]]></category>
		<category><![CDATA[asam sitrat]]></category>
		<category><![CDATA[Buah delima]]></category>
		<category><![CDATA[fellandren]]></category>
		<category><![CDATA[fosfor]]></category>
		<category><![CDATA[geranil astat]]></category>
		<category><![CDATA[influenza]]></category>
		<category><![CDATA[jeruk nipis]]></category>
		<category><![CDATA[kalsium]]></category>
		<category><![CDATA[limonen]]></category>
		<category><![CDATA[linalin asetat]]></category>
		<category><![CDATA[radikal bebas]]></category>
		<category><![CDATA[vitamin B1]]></category>
		<category><![CDATA[vitamin C]]></category>
		<category><![CDATA[zat besi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[JIKA suara mendadak parau, jahe membantu mengatasinya. Sebab, tanaman tersebut mengandung antioksidan yang sangat penting untuk mencegah radikal bebas yang memengaruhi kualitas suara. Tanaman itu juga bisa untuk melawan influenza. &#8221;Selain jahe, ada tanaman lain yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga pita suara tetap bagus. Yakni, jeruk nipis,&#8221; kata Husin Rayesh Malalleng Apt MKes. Tanaman dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class=tepi align=left width=250 src="http://blog.kenz.or.id/wp-content/gudang/2007/05/jeruk-nipis.jpg" alt="jeruk nipis Jeruk Nipis Atasi Serak"  title="Jeruk Nipis Atasi Serak" />JIKA suara mendadak parau, jahe membantu mengatasinya. Sebab, tanaman tersebut mengandung <strong>antioksidan</strong> yang sangat penting untuk mencegah <strong>radikal bebas</strong> yang memengaruhi kualitas suara. Tanaman itu juga bisa untuk melawan <strong>influenza</strong>.</p>
<p>&#8221;Selain jahe, ada tanaman lain yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga pita suara tetap bagus. Yakni, <strong>jeruk nipis</strong>,&#8221; kata Husin Rayesh Malalleng Apt MKes. Tanaman dengan nama latin citrus aurantifolia itu, menurut Husin, mengandung <strong>limonen, linalin asetat, geranil astat, asam sitrat, vitamin C, kalsium, fosfor, vitamin B1, zat besi, dan fellandren</strong>.</p>
<p><strong>Buah delima</strong> juga bisa mencegah suara serak. Cara konsumsinya cukup mudah. Yakni, memakan daging buahnya. Lakukan dua hingga tiga kali sehari. &#8221;Namun, hati-hati dengan getahnya. Pada sebagian orang, getah pada buah tersebut bisa membuat gigi mudah rusak,&#8221; jelas dosen Fakultas Farmasi Unair, Ubaya, dan Universitas Widya Mandala (UWM) itu.</p>
<p>Selain dikonsumsi, bahan herbal bisa dijadikan bahan gurah. Khusus untuk pita suara, yang dipakai biasanya bahan akar tumbuhan sirgunggu (clerodendron serratum). Cara itu bisa membuat suara nyaring, juga menyembuhkan penyakit asma, batuk kering, dan berdahak.</p>
<p>Untuk gurah, kulit akar ditumbuk, lalu diseduh dengan air. Hasil seduhan diteteskan ke hidung. Bila &#8221;obat&#8221; sudah dimasukkan, pasien diminta tengkurap. Tak lama kemudian, pasien akan mengeluarkan lendir cukup banyak. &#8221;Jika lendir dan dahak keluar, suara akan menjadi jernih,&#8221; tutur Husin.</p>
<p><em>sumber : JPNN</em></p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="suara bayi serak">suara bayi serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="bayi serak">bayi serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="agar suara tidak serak">agar suara tidak serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="obat suara serak">obat suara serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="obat serak">obat serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="serak pada bayi">serak pada bayi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="site:www mutiara-hati com atasi serak pd anak">site:www mutiara-hati com atasi serak pd anak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="serak bayi">serak bayi</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="suara bayiku serak">suara bayiku serak</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html" title="jeruk nipis untuk suara serak">jeruk nipis untuk suara serak</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 16.059 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/jeruk-nipis-atasi-serak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengarahkan Anak Hiperaktif</title>
		<link>http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html</link>
		<comments>http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 08:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anak hiperaktif]]></category>
		<category><![CDATA[mengarahkan anak hiperaktif]]></category>
		<category><![CDATA[terapi anak hiperaktif]]></category>
		<category><![CDATA[terapi untuk anak hiperaktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mutiara-hati.com/v2/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA. Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class=tepi src="http://www.mutiara-hati.com/v2/wp-content/uploads/anak-hiper.jpg" alt="anak hiper Mengarahkan Anak Hiperaktif" title="anak-hiper" width="200" class="alignleft size-full wp-image-209" />Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif.<br />
Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA.</p>
<p>Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.</p>
<p>Anda cemas dan gugup? Tentu, tapi jangan takut. Kami punya resepnya.</p>
<p>Pertama, PERIKSALAH. Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada<br />
kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para<br />
ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.</p>
<p>Kedua, PAHAMILAH. Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.</p>
<p>Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.</p>
<p>Keempat, TELATENLAH. Jika dia telah “betah” untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.<br />
Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka “0? dengan benar.</p>
<p>Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus “bekerjasama” dengan dia.</p>
<p>Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya. Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar,  memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk<br />
meningkatkan rasa percaya diri anak.</p>
<p>Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.</p>
<p>Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat,  anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.</p>
<p>Keenam, KENALI arah minatnya. jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara<br />
dini.</p>
<p>Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.</p>
<p>Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya.<br />
Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.</p>
<p>“Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati,” ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.</p>
<p>Terakhir, SIAP bahu-membahu. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan<br />
berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak<br />
sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.</p>
<p>Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh SENTUHAN dan PERHATIAN LEBIH. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi JENIUS yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.</p>
<a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="terapi anak hiperaktif">terapi anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="mengarahkan anak hiperaktif">mengarahkan anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="terapi untuk anak hiperaktif">terapi untuk anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="Pengobatan anak hiperaktif">Pengobatan anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="pengertian anak hiperaktif">pengertian anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="definisi hiperaktif">definisi hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="anak hyperaktif">anak hyperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="terapi pada anak hiperaktif">terapi pada anak hiperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="terapi anak hyperaktif">terapi anak hyperaktif</a>, <a href="http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html" title="Terapi anak hiper aktif">Terapi anak hiper aktif</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 8.446 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mutiara-hati.com/mengarahkan-anak-hiperaktif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
