Jenis Permainan untuk Bayi yang Sesuai Usianya

Permainan Bayi yang Sesuai Usia
Jenis Permainan untuk Bayi yang Sesuai Usianya
Kualitas kehidupan seseorang sudah dapat ditentukan saat usianya menginjak 3 tahun. Pada usia tersebut, sel-sel otak tumbuh dengan sangat cepat semenjak dilahirkan. Segala hal yang terjadi pada rentang waktu ini akan mempengaruhi perkembangan bayi untuk selanjutnya. Untuk merangsang perkembangan otak bayi, perlu diberikan permainan sesuai tahapan usianya.

“Sel-sel otak janin tumbuh dan berkembang cepat sejak bulan pertama dalam kandungan. Pada usia 6 bulan, sel-sel otak membentuk banyak sinaps atau sambungan sel saraf dan membentuk rangkaian sirkuit fungsional yang kompleks. Proses ini berlangsung cepat sampai usianya mencapai 3 tahun,” kata dr Jenni K. Dahliana, SpA, dokter spesialis anak.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan sel saraf pada otak bayi, dr Jenni menuturkan, dibutuhkan 3 faktor yang saling melengkapi, yaitu fisik, kasih sayang dan stimulasi dini. Kebutuhan fisik dapat dipenuhi dari asupan nutrisi yang mempengaruhi pertumbuhan sel otak. Kebutuhan kasih sayang berfungsi mempengaruhi kemandirian dan kecerdasan emosi. Sedangkan stimulasi dini bermanfaat untuk merangsang seluruh indera anak.

“Stimulasi dini pada bayi dan balita merupakan permainan yang merangsang semua indera, merangsang gerakan kasar dan halus, kemampuan komunikasi, emosi, kreatifitas dan kemandirian. Kesemuanya merupakan cikal bakal proses pembelajaran anak,” kata dr Jenni.

Praktiknya, stimulasi dini dilakukan dengan cara memberikan permainan kepada anak sesuai dengan tingkatan umurnya. Lebih lanjut lagi, dr Jenni memaparkan tingkatan permainan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

Untuk bayi 0 – 3 bulan, permainan yang bisa diberikan adalah dipeluk atau digendong, menatap mata bayi, diajak senyum dan bicara atau bernyanyi, digulingkan kanan kiri saat telentang atau tengkurap dan dirangsang memegang mainan.

Ketika bayi berusia 3 – 6 bulan, permainan ditambah dengan permainan cilukba, permainan melihat wajah di cermin, dan dirangsang tengkurap atau telentang bolak-balik.

Ketika menginjak usia 6 – 9 bulan, permainan ditambah dengan memanggil namanya, diajak salaman atau tepuk tangan, dibacakan dongeng dan dirangsang duduk serta berdiri berpegangan.

Menginjak usia 9 – 12 bulan, permainan ditambah dengan mengulang kata mama-papa, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, bermain bola dan dilatih berdiri atau jalan berpegangan.

Menginjak usia 12 – 18 bulan, permainan ditambah dengan permainan mencorat-coret, menyusun kubus, menyebut nama atau bagian badan, bermain imajinatif dan permainan untuk melatih kemampuan motorik.

Menginjak usia 18 – 24 bulan, permainan ditambah dengan menyebut benda di sekitarnya, mengajak bicara mengenai kegiatan sehari-hari, permainan menggambar garis, serta dilatih mencuci tangan dan memakai pakaian.

“Setiap ada kesempatan, ajaklah anak untuk berinteraksi terus menerus dan bervariasi sesuai umur perkembangannya. Pastikan suasana bermain menyenangkan dan tidak terburu-buru. Perhatikan juga minat anak terhadap permainan,” kata dr Jenni.

Permainan yang diberikan pada bayi ini tidak boleh digantikan fungsinya dengan TV ataupun vieo sebab stimulasinya bersifat pasif sehingga tidak merangsang minat bicara bayi. Selain itu, TV dan video terkadang mengandung banyak unsur negatif seperti agresifitas, kekerasan dan penggunaan bahasa yang kurang mendidik.

sumber detik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS



Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.
Email
Print