Anak Hiperaktif, Dianjurkan Ikut Kelas Inklusi

Manfaat Menyanyi Bersama BatitaAnak Hiperaktif, Dianjurkan Ikut Kelas Inklusi
Anak hiperaktif sering digambarkan sebagai pembuat onar. Karena itu, tak sedikit yang bertanya, bagaimana jika anak hiperaktif disekolahkan di sekolah umum dan membuat kekacauan di kelas?

Tentu, kelas menjadi tidak nyaman sehingga memecah konsentrasi belajar murid lain. Anak yang bersangkutan juga tidak bisa berkembang dengan baik. “Sejak awal, sebaiknya orang tua dan guru sama-sama tahu apakah si anak normal atau tidak,” kata Dadang Bagoes Prihantono SPd, guru kelas 4 praklasikal SDN Klampis Ngasem I/264 (inklusi), Surabaya.

Dia menegaskan, jangan sekali-sekali orang tua menyembunyikan keadaan anak dan memaksanya masuk kelas reguler. “Kelas reguler adalah tempat untuk anak-anak biasa,” tuturnya.

Dia menambahkan, orang tua bisa saja menyembunyikan tingkah laku anak sehingga bisa masuk ke kelas reguler. Saat anak pertama masuk sekolah, tingkah laku aslinya belum terlihat. Baru beberapa hari atau minggu kemudian, sifat asli itu muncul. Mereka biasanya melakukan berbagai tindakan agar orang memperhatikan. “Ada anak yang tiba-tiba telanjang tanpa sehelai baju pun di depan kelas,” ujar Dadang.

Tentu, seisi kelas jadi tidak konsentrasi dan melihat anak itu. Jika hal tersebut terjadi di kelas rendah (1-4), anak lain akan mudah terpengaruh untuk melihat. Sebab, mereka belum tahu mana yang baik dan yang tidak.

Jika merasa tidak diperhatikan meski sudah buka baju, anak itu akan bertindak lebih. Pertama, guru akan memperingatkan dia. Jika tidak mempan, akan terjadi kejar-kejaran. “Kalau sudah begitu, siapa yang tidak akan melihatnya?” papar Dadang.

Dia mengungkapkan, anak hiperaktif akan lebih sibuk menggoda teman daripada belajar. “Teman-temannya bakal terganggu. Dia juga tidak bisa berkembang,” jelas dia.

Kalau mengerjakan ulangan, anak hiperaktif juga jarang menyelesaikan. Di antara sepuluh soal, yang dikerjakan paling hanya tiga. Selebihnya, dia jalan-jalan di kelas. Jelas, nilai ujian akan terpengaruh. “Mereka mengalami gangguan konsentrasi dan tidak tahan duduk manis dalam waktu lama,” imbuhnya.

Pada kelas reguler, tentu tidak ada toleransi untuk nilai. Karena itu, mereka sebaiknya dipindahkan ke kelas dengan program khusus, yakni inklusi. Inklusi adalah program pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dalam persekolahan reguler dengan memaksakan sistem. “Maksudnya, program belajar menyesuaikan kebutuhan anak. Kelas itu berisi anak yang sama-sama memiliki kebutuhan khusus,” terang Dadang.

Saat ini, kelas prainklusi di sekolah tempat Dadang mengajar berisi 14 murid dengan empat guru. Tujuannya, guru dapat lebih memperhatikan mereka. Kasih sayang dan kedisiplinan diperlukan untuk menangani anak-anak tersebut.

Namun, untuk menyesuaikan tingkah laku mereka, waktu belajar pun tidak selama kelas reguler. Materi pembelajaran bisa saja tertinggal dari kelas reguler. Namun, itu lebih baik daripada mereka ditempatkan di kelas biasa. Meski sedikit, mereka akan menyerap materi pelajaran daripada tidak sama sekali.

Kalaupun saat ulangan tidak selesai mengerjakan, sang anak bisa melanjutkan esoknya sampai semua soal selesai dikerjakan. “Waktunya bergantung mood mereka. Jika sudah mau mengerjakan lagi, baru diteruskan,” sambungnya.

Di antara beberapa anak berkebutuhan khusus yang masuk kelas itu, tegas Dadang, ada yang bisa masuk ke kelas reguler. “Sekitar 20 persen murid bisa kembali normal,” ucapnya.

Mereka mengalami perubahan tingkah laku yang positif. Kebiasaan anak yang dulu suka menggigit orang, misalnya, bisa berkurang. Malah, bisa jadi anak tersebut tidak melakukan kebiasaan itu lagi. Yang dulunya tidak bisa diam juga bisa bertahan lebih lama duduk manis dan memperhatikan pelajaran. “Tetapi, mereka tidak langsung dilepas. Tetap ada pendampingan sampai anak benar-benar siap,” lanjut dia.

Ada beberapa syarat hingga mereka bisa masuk ke kelas reguler. Di antaranya, sikap mereka sudah berubah. “Juga, kemampuan akademiknya beda tipis dengan anak reguler,” tegas dia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... menangani anak hiperaktif di kelas, pendidikan inklusif untuk murid hiperaktif, sekolah untuk anak hiperaktif, test untuk anak inklusi

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS



Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.
Email
Print