Anak Suka Elus Tembok hingga Sulit Konsentrasi
Anak Disintegrasi Sensori Kadang Juga Suka Benturkan Kepala
Jangan dulu menjatuhkan cap bodoh atau nakal bila anak tak mudah memahami pelajaran yang diberikan. Ada kemungkinan si kecil hanya sulit berkonsentrasi. Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah gangguan disintegrasi sensori.
Gejalanya, antara lain, anak mudah bereaksi ketika ada gangguan kecil. Misalnya, ketika ada orang yang berjalan melewati ruangan tempat belajar, anak langsung menghentikan aktivitas dan mencari tahu siapa yang berjalan tersebut. ”Meski ringan, gangguan tersebut harus ditanggulangi. Jika tidak, konsentrasi belajar anak terganggu. Itu bisa berdampak pada prestasi akademisnya,” kata Ninik Soetini SMPh, seorang fisioterapis.
Menurut dia, disintegrasi sensori merupakan ketidakmampuan anak untuk menerima dan mengenal informasi yang diterima melalui penginderaan. Dengan begitu, tak ada respons berupa tindakan yang diinginkan.
”Bentuk disintegrasi sensori sangat banyak. Misalnya, anak gemar membenturkan kepala ke tembok atau anak gemar mengeluskan tangan ke tembok,” paparnya. Bisa juga anak khawatir mabuk perjalanan ketika naik bis, takut berdiri sehingga anak pilih duduk di sudut ruangan, dan sebagainya.
Untuk menangani anak dengan disintegrasi sensori, harus dicari sumber penyebabnya dulu. Setelah itu, fisioterapis akan memberi input. Tujuannya, memenuhi apa yang dibutuhkan anak.
Khusus kasus tak bisa konsentrasi, anak dilatih fokus. Salah satu caranya, berlatih ayunan cepat. Anak duduk di ayunan, lalu diberi gerakan-gerakan yang mengejutkan. Bisa juga dengan melompat dari trampolin sambil mengambil benda yang dilemparkan kepadanya. ”Terapi yang paling sederhana adalah minta anak minum es pakai sedotan,” kata wanita yang menempuh pendidikan S1 fisioterapi di Solo itu.
Bila telah belajar fokus, lanjut Ninik, anak baru dibimbing belajar. Yang membimbing belajar bisa orang tuanya sendiri. ”Jadi, anak tak diminta belajar terus. Itu terapi yang salah. Anak bisa stres dan malah menolak belajar,” ingatnya.
Penanganan anak yang suka mengeluskan tangannya ke tembok jauh lebih kompleks. Ninik menyatakan, awalnya kebutuhan pasien agar tangannya dielus harus terpenuhi. Caranya, dengan deep massage sambil anak diajak berkomunikasi bahwa tindakan yang dilakukan selama ini tak benar.
sumber : JPNN
penyebab anak susah konsentrasi, anak sulit konsentrasi, fisioterapi ninik soetini, disintegrasi pada anak, penanganan anak yang tidak konsentrasi belajar, terapi anak susah konsentrasi, susah konsentrasi, pelajaran sulit, mengatasi taman kanak - kanak yang sulit konsentrasi, mengatasi anak yang tidak konsentrasi
disintegrasi sensori. ini bahasan yang menarik. Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa ketika konsentrasi teralihkan karena ada obyek yang melintas di depan pandangan seseorang, itu merupakan hal yang wajar. Karena (konon) otak memang sangat tertarik pada hal yang “tidak wajar”. Memandang seseorang yang lewat ketika orag lain disekitarnya diam menjadi obyek “tidak wajar” yang mudah terdeteksi mata (dan otak)